Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Peru Klasifikasikan Transgender Sebagai Gangguan Mental, Ratusan Aktivis LGBT Protes

📅 Sabtu, 18 Mei 2024, 10:49 WIB | Oleh: Tim Penulis
Peru Klasifikasikan Transgender Sebagai Gangguan Mental, Ratusan Aktivis LGBT Protes Doc: World Echo News
Ket. Lebih dari 200 aktivis berkumpul di luar Kementerian Kesehatan Peru untuk menuntut pencabutan keputusan tersebut.

LIMA - Kelompok LGBTQ melakukan aksi protes pada Jumat (17/5) di luar gedung Kementerian Kesehatan Peru setelah pemerintah mengeluarkan keputusan yang mencantumkan transeksualisme sebagai gangguan mental.

"Ini adalah keputusan yang membawa kita kembali ke tiga dekade," kata Jorge Apolaya, juru bicara Collective Pride March, sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Lima.

"Kita tidak bisa hidup di negara di mana kita dianggap sakit," katanya.

Transgender adalah mereka yang menolak jenis kelamin yang diberikan kepada mereka saat lahir. Beberapa memilih intervensi bedah atau medis.

Pemerintah pada tanggal 10 Mei memperbarui daftar kondisi kesehatan yang dapat diasuransikan - yang sejak tahun 2021 menawarkan manfaat untuk perawatan kesehatan mental - untuk memasukkan layanan bagi kaum transgender.

Dalam keputusan tersebut, Kementerian Kesehatan menggambarkan kondisi tersebut sebagai "gangguan mental" - sebuah istilah usang yang sudah lama ditinggalkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Lebih dari 200 aktivis berkumpul di luar kementerian kesehatan untuk menuntut pencabutan keputusan tersebut pada hari Jumat (17/5) - Hari Internasional Melawan Homofobia, Bifobia dan Transfobia.

"Itu adalah peraturan yang melanggar kami… mereka memposisikan kami sebagai orang sakit, seolah-olah kami punya masalah," kata Afrika Nakamura (25).

Dengan slogan seperti "Ini bukan penyakit, ini keberagaman!" dan "Kami trans dan kami tidak sakit," para pengunjuk rasa memblokir jalan sibuk di depan kementerian selama beberapa jam.

Tidak ada bentrokan dengan polisi yang dilaporkan.

"Kami menuntut pencabutan keputusan transfobia dan kekerasan ini, yang bertentangan dengan identitas trans kami di Peru," kata aktivis Gianna Camacho dari Coordinacion Nacional LGTBIQ+ kepada AFP.

"Kami tidak sakit jiwa dan kami tidak menderita gangguan mental apa pun," tambahnya.

Pemerintah mengatakan tidak akan membatalkan keputusan tersebut.

Pejabat Kementerian Kesehatan Carlos Alvadrado mengatakan kepada AFP bahwa tindakan tersebut akan "menghilangkan hak atas perawatan."

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

38 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.