Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Adaptasi Sejarah Menjadi Film, Sutradara Ini Beri Kiatnya

📅 Senin, 10 Nov 2025, 20:51 WIB | Oleh:
Adaptasi Sejarah Menjadi Film, Sutradara Ini Beri Kiatnya Doc: ANTARA/HO-Mars Media
Ket. Mars Media akan merilis film berjudul "Diponegoro Hero" untuk menemani masyarakat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Indonesia sekaligus memperingati 200 tahun perang Jawa.

JAKARTA - Sutradara Aldo Swastia menyebut tidak ada patokan pasti dalam menentukan batas antara fakta dan fiksi yang harus dikembangkan terutama dalam film bertema sejarah atau kepahlawanan.

"Sebenarnya tidak ada patokannya ya," kata Aldo dalam webinar yang dipantau dari Jakarta, Senin (10/11).

Meski demikian, pembuat film sebaiknya tetap menjaga keberadaan peristiwa besar dan minim mengolahnya. Hal itu seiring perkembangan dalam riset sebuah cerita, terkadang tim pembuat film menemukan kendala dalam melengkapi data-data riset sejarah, karena tidak semua peristiwa sejarah memiliki data yang lengkap dan komprehensif.

Agar film garapannya kian menarik, perlu menyuntikkan ide kreatif pada ruang-ruang yang dianggap masih belum pasti.

"Jadi dari fakta-fakta yang kami dapat itu memang karena ada ruang yang masih abu-abu, yang masih belum ada kepastiannya apakah ini benar terjadi seperti itu atau tidak gitu. Di situlah kami memasukkan fiksi, cerita fiksi yang didramatisasi adegan-adegannya," tegasnya.

Lebih lanjut, agar film kian ceria, beberapa fakta dapat dihadirkan dengan nuansa yang sedikit berbeda.

"Tapi pada akhirnya semuanya tergantung pada pesan yang ingin disampaikan," katanya lagi.

Pembuat film juga dapat membatasi bagian yang ingin dihadirkan dalam bentuk fiksi dan bagian ditampilkan secara nyata.

Ia juga mengingatkan sebaiknya tidak mengubah secara drastis sebuah adegan yang sudah diketahui secara resmi.

"Tapi kalau di bagian-bagian kecil sebenarnya sah-sah aja," jelasnya.

Dalam mengadaptasi peristiwa sejarah menjadi film, kata ia, pembuat film juga perlu menghadirkan resonansi dengan sejarah sehingga mampu menghadirkan pesan dan misi yang jelas pada penonton.

Sementara soal tantangan dalam memproduksi film dengan tema sejarah adalah, menurutnya perlu masuk dalam era yang telah ditentukan.

Selain itu, bahasa juga menjadi hal yang patut di perhatikan.

"Kalau misalnya kita pakai Bahasa Jawa, bagaimana dengan penonton yang ada di Makassar misalnya atau di Papua atau di Aceh misalnya, berjarak atau tidak itu kan sebenarnya agak sulit ya," tambah dia.

Berkaca pada film 'Kadet 1947' karyanya, pihaknya memutuskan akhirnya memilih penggunaan bahasa Indonesia karena pada dasarnya tujuan pembuatan film yang berfokus pada sejarah Indonesia. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.