Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perlu Berhemat Selama Mudik, Agar Masih Bisa Balik ke Jakarta

📅 Sabtu, 29 Mar 2025, 11:18 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perlu Berhemat Selama Mudik, Agar Masih Bisa Balik ke Jakarta Doc: istimewa
Ket. Aktivitas masyatakat saat mudik

JAKARTA-Supianto memilih tidak mudik ke kampungnya tahun ini. Lelaki berusia 31 tahun ini berasal dari tempat yang jauh dari Jakarta, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar).

Awalnya lulusan Filsafat Islam itu ingin mudik ke Sulbar, sebab terakhir ke kampung tahun 2021 silam, namun rencana itu batal karena ekonomi sedang tidak baik baik saja.

Supi merupakan pekerja media yang mana kantornya bergantung pada belanja iklan pemerintah dan swasta, namun efisiensi anggaran  pendapatan dan belanja negara (APBN) membuat belanja iklan anjlok. 

Tunjangan hari raya (THR) ujarnya memang membantu, namun tidak untuk jangka waktu lama. "Kalau saya pulang, bawa tiga orang, saya, istri dan anak. Pulang pergi (PP) bisa 12 juta dengan menghitung harga tiket sekarang,"ujar Supi pada Koran Jakarta, Sabtu (29/3).

Angka itu sudah menghitung biaya tiket pesawat Jakarta-Makassar, lalu menempuh perjalanan darat 5-6 jam ke Polewali Mandar (Sulawesi Barat). Namun, belum menghitung biaya lain lain yang mungkin sama dengan harga tiket. "Kalau saya mudik ke Sulbar, bisa bisa ga balik lagi ke Jakarta,"ungkap Supi setengah bercanda.

Beruntung Supi punya mertua asal Kendal, Jawa Tengah, yang ia anggap sudah menjadi orang tuanya sendiri, sehingga untuk mengobati kerinduan pada orang tuanya yang jauh di Sulbar, cukup ke Kendal.

"Ke Kendal murah meriah (dibanding ke Sulbar). Tiga orang cukup sejuta,"papar Supi. Kali ini Supi memilih berlibur ke Kendal, toh serasa pulang kampung sendiri.

Tak beda jauh dengan Supi, Bonavantura Purnama memilih tetap di Jakarta. Pria berusia 36 tahun itu memilih tetap di Jakarta meskipun kantornya libur lebaran hingga 7 April.

Bukan tanpa alasan mengapa pria single itu tidak mudik. Harga tiket pesawat ke kampungnya di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah di atas 2,5 juta rupiah. Artinya, untuk tiket pesawat saja PP, sekitar 5 juta rupiah. Belum biaya lainnya.

"Saya baru pulang kampung Desember lalu, kalau pulang lagi biaya tambah bengkak. Perantau tidak boleh keseringan pulang. Kalau sering pulang ngapain merantau,"selorohnya. 

Lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu bercerita, kantornya berkaitan erat dengan industri otomotif, sementara data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) penjualan mobil masa lebaran 2025 turun 15-20 persen dibanding masa normal.

"Artinya itu berpengaruh juga ke kantor kami. Kami harus menahan belanja besar termasuk pulang kampung agar masih bisa survive,"ucap Bona.

Tingkatkan Daya Beli Masyarakat

Supi dan Bona contoh kelas menengah rentan, yang apabila ekonomi nasional terganggu saja pekerjaannya bisa kena imbasnya. Makanya pemerhati masalah sosial ekonomi Awan Santosa mendorong pemerintah untuk merealokasi APBN untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

38 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.