Peneliti BRIN Ungkap Ada Potensi Perbedaan Penentuan Hari Raya Idulfitri 2026
📅 Senin, 16 Mar 2026, 15:28 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Penentuan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026. Perbedaan tersebut dipicu penggunaan metode dan kriteria penentuan awal bulan Hijriah yang tidak sama.
"Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Maka 1 Syawal 1447 jatuh pada 21 Maret 2026," kata Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, dikutip dari tulisan dalam blog pribadinya pada Juni 2025 lalu.
Kriteria Forum MABIMS menetapkan tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Ketentuan tersebut digunakan dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, maupun bulan Hijriah lainnya.
Thomas menjelaskan hasil berbeda bisa muncul jika menggunakan kriteria lain seperti yang diterapkan Turki. "Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026," ucap Thomas.
Sementara, data pengamatan hilal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan posisi hilal belum sepenuhnya memenuhi kriteria MABIMS. Tinggi hilal saat Matahari terbenam diperkirakan berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Elongasi geosentris pada waktu yang sama diperkirakan berada di rentang 4,54 hingga 6,1 derajat. Selain itu, pengamat juga perlu memperhatikan potensi gangguan objek astronomi lain saat proses rukyat.
Jika hilal tidak terlihat pada 19 Maret 2026, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Dengan kondisi tersebut, Idulfitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Thomas menilai potensi perbedaan penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia masih cukup besar. Hal itu terjadi karena perbedaan kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi keagamaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan awal Syawal lebih awal menggunakan metode hisab. Organisasi tersebut menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026.
"Penggunaan KHGT yang secara resmi akan dimulai pada 1447/2025. Ini berpotensi makin sering terjadi perbedaan awal Ramadan, Syawal, atau Idul Fitri," kata Thomas dalam tulisan tersebut.
Penetapan tersebut didasarkan pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KGHT) yang digunakan Muhammadiyah. Sistem ini merujuk pada pendekatan kalender global yang juga diterapkan di Turki.
Pemerintah sendiri akan menetapkan tanggal resmi Idulfitri melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama. Sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah rencananya akan dilaksanakan pada Kamis (19/3). ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!