Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pelestarian Alat Musik Khas Sunda, Pemkab: 10 Ribu Pelajar Kuningan Serentak Mainkan Angklung Diatonis

📅 Senin, 20 Mei 2024, 00:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pelestarian Alat Musik Khas Sunda, Pemkab: 10 Ribu Pelajar Kuningan Serentak Mainkan Angklung Diatonis Doc: ANTARA/Fathnur Rohman
Ket. Sejumlah peserta saat mengikuti permainan musik angklung diatonis serentak di Kuningan, Jawa Barat, Minggu (19/5/2024).

Kuningan - Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyebut sebanyak 10 ribu pelajar di daerah itu memainkan angklung diatonis secara serentak sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan alat musik khas Sunda itu kepada generasi muda.

"Keberadaan angklung dengan nada diatonis ini tidak lepas dari sumbangsihtokoh asal Kuningan bernama Pak Kutjit yang berkolaborasi dengan Daeng Soetigna. Kami ingin melestarikan alat musik ini," kata Penjabat Bupati Kuningan Iip Hidajat di Kuningan, Minggu.

Iip menjelaskan permainan alat musik oleh ribuan pelajar itu dilakukan pada ajang Gebyar Angklung, yang menjadi bagian inti dari puncak perayaan Hari Pendidikan Nasional di Kabupaten Kuningan.

Melalui kegiatan tersebut, kata dia, para pelajar bisa mengetahui akar sejarah dari terciptanya nada diatonis yang diterapkan pada angklung.

Selain itu, menurut Iip, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan rasa cinta dan bangga kepada generasi muda terhadap keberadaan angklung diatonis yang kini menjadi warisan kebudayaan lokal di Kuningan serta wajib dilestarikan.

"Kebersamaan dalam menghadirkan nada-nada tersebut, pada akhirnya mengharumkan nama bangsa karena angklung sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tahun 2010," ujarnya.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengemukakan lahirnya angklung diatonis berawal dari perjumpaan Daeng Soetigna dengan seorang bernama Muhammad Sotari (Kutjit atau Kuwu Citangtu) pada 1938. Tepatnya saat Daeng masih bertugas menjadi guru di SMP 1 Kuningan.

Semasa itu, Daeng belajar kepada Pak Kutjit untuk membuat angklung dengan tangga nada diatonis, dimulai dari memilih bambu yang tepat sampai menyesuaikan bunyinya hingga pas.

Dian menyebutkan bahwa proses tersebut kemudian menjadi bagian penting terkait dengan sejarah transformasi angklung dari nada pentatonis menjadi diatonis.

"Ini sebagai dasar kita bagaimana meyakinkan tekad, bahwa Kuningan adalah betul menjadi bagian sejarah dari perkembangan angklung," tuturnya.

Dia menambahkan angklung dari Kuningan memiliki ciri khas tersendiri, karena menerapkan pola diatonis yang mempunyai dua jarak tangga nada, yakni satu dan setengah.

Jenis tangga nada diatonis, tambah dia, sering ditemukan pada musik kontemporer dan angklung dari Kuningan mampu memainkan bunyi dari genre tersebut.

"Sebelum dikenal saat ini, angklung memiliki jenis nada pentatonis. Untuk jenisnya sendiri nada pentatonis terbagi menjadi dua yaitu, pelog dan slendro. Karya angklung diatonis inilah yang berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisional Indonesia mampu memainkan musik kontemporer," ucap dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.