Pangan Biru Jadi Solusi Ketahanan Global di Tengah Ledakan Populasi
📅 Rabu, 06 Agu 2025, 18:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menekankan pentingnya transisi menuju pangan biru (blue food) sebagai respons terhadap pertumbuhan populasi global yang kian masif.
Dengan proyeksi jumlah penduduk dunia mencapai 9,7 miliar jiwa pada tahun 2050, Trenggono mengingatkan bahwa kapasitas daya dukung bumi bersifat tetap, sementara tekanan terhadap sumber daya alam terus meningkat secara eksponensial.
Dalam konteks tersebut, pangan biru—yang mencakup hasil perikanan tangkap dan budidaya laut maupun air tawar—dilihat sebagai sumber gizi yang berkelanjutan dan efisien.
Selain memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibandingkan pangan darat seperti daging merah, komoditas kelautan juga memiliki potensi besar dalam menjaga ketahanan pangan global serta mendukung pertumbuhan ekonomi biru (blue economy).
"Dampaknya adalah sudah pasti kerusakan lingkungan, 'land use' terus akan berkurang, dan sekarang manusia pasti akan bergeser ke 'blue food',” katanya dalam Peluncuran Blue Food Assessment (BFA) Indonesia dan Indonesia Blue Economy Index (IBEI) di Jakarta, Rabu (6/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Karbohidrat semakin lama akan ditinggalkan karena tak terlalu sehat dan penggunaan lahan selalu berkurang, katanya, menegaskan. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) memprediksi akan terjadi peningkatan kebutuhan protein hingga 70 persen.
Dalam hal ini, ia mengapresiasi Bappenas yang sudah memahami masalah tersebut walaupun selama empat tahun terakhir telah berusaha menerangkan terhadap seluruh lembaga, tetapi selalu menghadapi tantangan dari dalam negeri, meskipun diterima di kancah global.
Menurut Trenggono, penyebab dari persoalan itu adalah kesulitan pihaknya dalam mengendalikan pengusaha penangkapan perikanan kategori medium-low. Adapun nelayan tradisional sangat bisa dikendalikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, ia mengatakan pangan biru merupakan bagian penting dalam sistem pangan global karena kaya nutrisi, keberlanjutan dengan jejak karbon rendah, serta menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir.
“Pangan biru ini memiliki potensi nilai global diperkirakan mencapai 419 miliar dolar (AS) pada tahun 2030. Indonesia sebagai konsumen utama ikan mencatat produksi stabil 20-25 juta ton per tahun yang menyumbang juga ekspor kira-kira 5,95 miliar dolar (AS) di tahun 2024, dan menjadikannya negara pengekspor bersih produk perikanan,” ujar Trenggono.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!