Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengagetkan, Ada Apa Tiba-tiba UGM Bantah Wolbachia sebagai Senjata Pembunuh Manusia

📅 Rabu, 22 Nov 2023, 00:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengagetkan, Ada Apa Tiba-tiba UGM Bantah Wolbachia sebagai Senjata Pembunuh Manusia Doc: ANTARA/Andi Firdaus
Ket. Peneliti nyamuk ber-Wolbachia di Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad saat menyampaikan keterangan dalam Podcast "Wolbachia, Cara Baru Melawan Dengue" diikuti dalam jaringan di Jakarta, Selasa (21/11/2023).

Jakarta - Peneliti nyamuk dengan bakteriWolbachia di Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad membantah kabar inovasi Wolbachia pada program penanggulangan dengue di Indonesia merupakan hasil rekayasa genetik yang didesain sebagai senjata pembunuh manusia.

"Wolbachia sebagai rekayasa genetik itu disinformasi yang sangat kuat, karena faktanya bakteri Wolbachia bakteri alami yang banyak di berbagai jenis serangga," kata Riris Andono Ahmad dalam Podcast "Wolbachia, Cara Baru Melawan Dengue" diikuti dalam jaringan di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan bakteri Wolbachia yang dimasukkan ke dalam sel di tubuh Aedes Aegypti identik dengan Wolbachia yang ada di inang aslinya, yaitu Drosophila Melanogaster atau jenis serangga bersayap yang masuk ke dalam ordo Diptera, umumnya dikenal sebagai lalat buah

Inovasi tersebut diyakini Riris tidak akan memicu perubahan genetik dari bakteri Wolbachia di sel serangga, maupun pada nyamuknya.

"Analoginya, bakteri Wolbachia ada di banyak serangga kemudian dimasukkan ke dalam nyamuk Aedes Aegypti. Itu mirip seperti kita konsumsi bakteri seperti susu probiotik, begitu bakteri diminum masuk dalam tubuh kita, tidak jadi manusia rekayasa genetik," katanya.

Riris juga menepis kabar Wolbachia sebagai senjata pembunuh manusia sebab dapat memicu penyakit baru manakala bakteri Wolbachia berpindah ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk.

"Ini hoaks yang luar biasa parah. Wolbachia hanya bisa hidup di dalam sel serangga, dia tidak bisa keluar. bagaimana dia keluar ke manusia kalau di luar sel serangga saja dia mati," katanya.

Terkait kabar Wolbachia memicu populasi nyamuk melimpah, seperti yang terjadi di Singapura, Riris tak menampik hal itu.

Ia mengatakan teknologi Wolbachia di Singapura diterapkan dengan menggunakan metode suppression atau penurunan jumlah populasi nyamuk.

Strategi itu diimplementasikan dengan melepaskan nyamuk jantan saja. Perkawinan nyamuk jantan dengan nyamuk betina di populasi alami akan menghasilkan telur yang tidak dapat menetas, sehingga populasi nyamuk akan berkurang.

"Akan tetapi nyamuk betina yang masih ada di populasi alami akan tetap mempunyai kemampuan untuk menularkan virus dengue. Di samping itu, metode supresi mensyaratkan pelepasan nyamuk jantan secara terus menerus, agar populasi nyamuk dapat selalu terkontrol," katanya.

Kementerian Kesehatan RI menerapkan inovasi Wolbachia untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.

Efektivitas teknologi Wolbachia telah diteliti sejak 2011 oleh World Mosquito Program (WMP) dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta yang terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen serta menurunkan angka rawat inap pasien dengue di rumah sakit sebesar 86 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.