Kembali dari Inggris, Perwira Muda Korlantas Polri Siapkan Roadmap Baru Atasi Kemacetan Indonesia
📅 Kamis, 04 Des 2025, 07:50 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: istimewa
JAKARTA - Upaya meningkatkan kualitas penanganan lalu lintas di Indonesia mendapat suntikan optimisme baru. Perwira muda Korlantas Polri, Ipda M. Haidar Yaafi, S.Tr.K., M.Sc., kembali ke Tanah Air setelah menuntaskan studi magister di University of Edinburgh, Skotlandia, dengan predikat Distinction.
Capaian tersebut mengiringi lahirnya sejumlah rekomendasi strategis yang dinilai siap diterapkan dalam penanganan kemacetan di berbagai kota besar Indonesia.
Disertasi yang mengantarkan Haidar Yaafi meraih predikat akademik tertinggi itu menyoroti kemacetan sebagai persoalan sistemik. Ia menegaskan bahwa problem lalu lintas di Jakarta, Surabaya, Medan, dan kota metropolitan lainnya tidak bisa diatasi hanya dengan pelebaran jalan atau rekayasa fisik semata.
Riset Haidar Yaafi justru berfokus pada pendekatan terpadu yang memadukan sains, kebijakan, dan perubahan perilaku, sebuah pendekatan yang semakin diadopsi negara-negara maju.
Untuk itu ada tiga pilar strategi yang meliputi regulasi hingga perubahan budaya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Haidar Yaafi mengusulkan tiga pilar utama yang dinilainya dapat menjadi arah baru mitigasi kemacetan di Indonesia yang terdiri dari:
Intervensi Kebijakan dan Regulasi
Haidar mendorong perumusan kebijakan lalu lintas yang tegas dan berbasis data. Contohnya penerapan Electronic Road Pricing (ERP) atau pembatasan kendaraan sesuai volume lalu lintas. Kebijakan ini, menurutnya, mampu mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum secara lebih signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemodelan Transportasi Berbasis Sains
Dengan kompetensi di bidang Transport Modelling, Haidar siap mendukung Korlantas mengembangkan model prediktif untuk mensimulasikan dampak kebijakan sebelum diterapkan. Pendekatan ini dapat mengurangi kebijakan yang berisiko tidak efektif karena diterapkan tanpa analisis mendalam.
Perubahan Budaya dan Integrasi Fasilitas
Haidar menegaskan bahwa keberhasilan strategi modern membutuhkan perubahan perilaku masyarakat. Integrasi fasilitas publik, termasuk pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD), harus diperkuat agar transportasi umum menjadi pilihan utama warga urban.
Menghadirkan Analisis Berbasis Sains
“Pendekatan baru ini mengajarkan kami melihat kemacetan sebagai persoalan kebijakan, rekayasa, dan budaya sekaligus,” ujar Haidar. “Kami siap menyumbang analisis berbasis sains mutakhir untuk membantu pemerintah dan instansi terkait merumuskan langkah yang efektif dan berkelanjutan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komitmen Polri Hadirkan SDM Unggul
Kembalinya Ipda Haidar dengan prestasi dan keahlian yang relevan menjadi bukti komitmen Polri dalam menyiapkan sumber daya manusia yang responsif terhadap tantangan layanan publik. Integrasi ilmu transportasi modern ke dalam kebijakan nasional dinilai menjadi langkah penting menuju sistem lalu lintas yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!