Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebijakan Pendidikan Jangan Bedakan Sekolah Negeri dan Swasta

📅 Rabu, 24 Mei 2023, 01:01 WIB | Oleh:
Kebijakan Pendidikan Jangan Bedakan Sekolah Negeri dan Swasta Doc: koran jakarta/Muhamad Ma’rup
Ket. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

JAKARTA - Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, berharap kebijakan pendidikan nasional ke depannya jangan membedakan antara sekolah negeri dan swasta. Dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyertakan bahwa penyelenggara pendidikan adalah pemerintah dan masyarakat.

"Kebijakan pendidikan ke depan tidak harus membedakan antara negeri dengan swasta," ujar Mu'ti, dalam Seminar Pendidikan CSIS Indonesia, di Jakarta, Selasa (23/5).

Mu'ti mengatakan, saat ini kebijakan pendidikan cenderung negeri sentris. Hal tersebut berdasarkan beberapa hal seperti guru-guru di sekolah swasta ditarik ke sekolah negeri atas nama Undang-undang serta bantuan pemerintah semua ke sekolah negeri. "Jadi harus dibedakan negeri dengan negara," jelasnya.

Mu'ti mengungkapkan, dirinya tidak sepakat jika ukuran mutu pendidikan adalah sekolah negeri. Menurutnya, ukuran standar nasional pendidikan harus dipenuhi baik negeri maupun swasta.

Dia menambahkan, banyak sekolah swasta yang lebih baik dari sekolah negeri. Di sisi lain, banyak sekolah swasta didirikan karena sekolah negeri tidak ada. "Jadi bukan sekolah negeri tidak diterima terus ke sekolah swasta, tidak juga. Sekolah negeri kita tidak hebat-hebat amat," katanya.

Karakter Swasta

Pengamat pendidikan dari Taman Siswa, Ki Darmaningtyas, menjabarkan setiap sekolah swasta memiliki karakter berbeda. Karakter pertama merupakan sekolah swasta generasi pertama yang lahir sebelum kemerdekaan.

"Mereka berdiri sebelum merdeka dan berkontribusi untuk mencerdaskan warga yang melahirkan tokoh-tokoh kemerdekaan. Termasuk mengisi kemerdekaan di masa-masa awal," terangnya.

Sebaiknya Anda baca juga:

Sekolah swasta generasi kedua lahir pascakemerdekaan pada tahun 1990-an sebab pemerintah belum mendirikan sekolah negeri. Generasi ketiga lahir pada akhir masa orde baru dan pasca reformasi dengan basis kapital untuk mendapat tenaga kerja.

Darmaningtyas menilai, pengambil kebijakan salah memandang sekolah swasta dengan curiga hanya untuk bisnis dan cari keuntungan saja. Menurutnya pandangan tersebut keliru sebab biasanya hanya terjadi pada sekolah swasta generasi ketiga.

"Generasi pertama dan kedua ada sekolah-sekolah mahal, mereka mensubsidi sekolah-sekolah miskin. Jadi Muhammadiyah unggul mensubsidi sekolah miskin, tidak untuk akumulasi kapital. Generasi pertama masih murni pada jalan pendidikannya dulu, generasi kedua juga sama," tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
IESR: Pulau Sumbawa Punya P...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

59 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.