Kampung Wisata Dilarang Cuma Jadi Spot Foto: DPRD Desak Jakarta Hadirkan Budaya Betawi yang Hidup
📅 Minggu, 02 Nov 2025, 15:50 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: DPRD DKI Jakarta
JAKARTA - Komisi B DPRD DKI Jakarta menegaskan perlunya strategi baru dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis budaya di Jakarta. Pendekatan tersebut difokuskan untuk menguatkan Program Pengembangan Kampung Wisata agar mampu menghadirkan pengalaman budaya yang autentik dan berkelanjutan.
Anggota Komisi B Muhammad Al Fatih menilai kampung wisata harus memiliki kekuatan nilai historis sebagai identitas utama. Namun, ia menekankan pentingnya penyesuaian dengan dinamika modern kota metropolitan yang semakin kompleks.
Konsep kampung wisata, lanjutnya, tidak boleh berhenti sebagai tempat swafoto atau kunjungan singkat tanpa interaksi budaya yang mendalam. Ia menyebut kampung wisata harus menjadi wadah warga, pelaku kreatif, dan wisatawan bertemu dalam aktivitas seni dan keseharian budaya.
Pengembangan kawasan juga perlu memberikan rasa nyaman dan aman bagi wisatawan dengan dukungan penataan ruang yang baik. Selain itu, potensi ekonomi warga setempat harus menjadi perhatian utama agar manfaat pariwisata benar-benar dirasakan langsung masyarakat.
Dengan konsep tersebut, kampung wisata dapat tampil sebagai wajah baru Jakarta yang menyatukan akar tradisi Betawi dengan gaya hidup urban modern. Harmoni tradisi dan inovasi menjadi kunci kemajuan pariwisata budaya di Ibu Kota.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kampung wisata harus dikembangkan sesuai dengan konteks urban Jakarta saat ini bukan hanya secara historis, tapi juga secara fungsional dan kenyamanan,” ujar Fatih kepada wartawan, Jumat (31/10).
Ia menambahkan, kampung wisata dapat menjadi roda ekonomi baru bagi masyarakat jika disokong kolaborasi lintas sektor. Para pelaku UMKM, seniman, desainer, serta komunitas kreatif harus dilibatkan dalam inovasi ekonomi berbasis budaya.
Produk-produk budaya Betawi menurutnya harus memiliki cita rasa desain yang menarik dan relevan bagi pasar urban masa kini. Identitas budaya lokal harus tetap dijaga namun dikemas dengan pendekatan estetika yang modern.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Jika dikemas dengan estetika yang menarik dan sesuai selera pasar, Budaya Betawi justru bisa menjadi tren baru bahkan viral di kalangan masyarakat urban maupun wisatawan mancanegara,” kata Fatih menekankan.
Fatih mengungkapkan salah satu tantangan terbesar pelestarian budaya Betawi adalah minimnya eksposur kepada generasi muda. Perubahan pola konsumsi media membuat anak muda jarang terhubung dengan karya-karya budaya lokal seperti era film Betawi karya Benyamin Sueb dahulu.
Menurutnya, strategi pelestarian budaya tidak boleh mengabaikan perubahan zaman yang membuat tren digital semakin mendominasi. Tanpa penyesuaian pendekatan kreativitas, budaya tradisional akan semakin jauh dari kehidupan generasi penerus.
Oleh karena itu, ia meminta Pemprov DKI melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meningkatkan pemanfaatan media modern sebagai kanal revitalisasi budaya. Visual yang segar dan pendekatan digital menjadi langkah penting agar budaya Jakarta tetap relevan.
Dengan menghadirkan konten budaya melalui platform digital dan format hiburan populer, ia meyakini identitas Betawi dapat diterima generasi muda tanpa kehilangan jati diri. Kreativitas harus menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan.
“Perlu dipikirkan cara baru agar anak muda bisa merasakan aura Budaya Jakarta. Misalnya lewat serial digital, musik, fesyen, atau festival tematik. Dikemas dengan pendekatan kekinian,” tukas dia menutup pernyataannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!