Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Integrasi Supply Chain Jadi Jawaban Tantangan Energi Nasional, ESDM Tekankan Pentingnya Jalur dari Hulu ke Hilir Lebih Efisien  

📅 Minggu, 28 Sep 2025, 17:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Integrasi Supply Chain Jadi Jawaban Tantangan Energi Nasional, ESDM Tekankan Pentingnya Jalur dari Hulu ke Hilir Lebih Efisien    Doc: ANTARA/ HO-Pertamina
Ket. Ilustrasi-Situasi di salah satu SPBU.

JAKARTA – Integrasi rantai pasok energi sangat penting demi memastikan kebutuhan energi nasional bisa terpenuhi dengan baik.

Energi itu ibarat aliran darah: kalau jalurnya tersumbat, tubuh pasti terganggu. Tantangan terbesar justru ada di bagaimana menghubungkan hulu ke hilir secara mulus—dari produksi hingga sampai ke tangan konsumen.

Supply chain energi yang terintegrasi end-to-end inilah kunci agar distribusi lebih efisien, biaya bisa ditekan, dan ketahanan energi Indonesia makin kuat.

"Mulai dari sumber energinya, fasilitasnya, transportasinya, mau itu melalui pipa atau kapal atau terminal regasifikasinya, kita juga harus ada sistem pipeline pipa yang terintegrasi antarpulau supaya kita bisa menyuplai energi untuk kebutuhan listrik, industri, dan transportasi. Karena segala sesuatu yang kita lakukan membutuhkan energi," ujar Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Transportasi dan Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi Satya Hangga Yudha Widya Putradalam keterangannya di Jakarta, Minggu (28/9).

Hangga menekankan di tengah semangat dekarbonisasi dan transisi energi, Indonesia harus tetap realistis dalam menghadapi prioritas utama masyarakat, yaitu accesability, affordability, dan availability.

"Yang paling penting kita bisa mendapatkan listrik, nyalain lampu, nyalain AC, ngecas HP, laptop. Kita bisa ke SPBU isi bensin dengan harga yang tidak terlalu mahal. Itu yang paling penting untuk kita. Yang menjadi prioritas bagi masyarakat adalah harga dulu," katanya, menegaskan.

Ia mengakui bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mencapai target seperti Paris Agreement dan net zero emission (NZE) 2060.

Namun, ketersediaan dan harga energi baru terbarukan (EBT) yang masih relatif mahal, serta tantangan penyimpanan (storage) menjadi kendala.

"EBT penting, namun harganya harus terjangkau dan bisa menyediakan listrik selama 24 jam terutama untuk kota-kota besar," kata Hangga, menjelaskan.

Hangga saat webinar annion Chemistry Fair Universitas Indonesia (UI) 2025, Sabtu (27/9), juga memaparkan data mengenai kondisi energi fosil Indonesia, khususnya minyak bumi.

Indonesia mencapai puncak produksi minyak pada tahun 1995-1996, dengan produksi sekitar 1,5-1,6 juta barel per hari.

Namun, saat ini, produksi minyak turun drastis menjadi sekitar 600.000 barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari.

Demi menjaga keterjangkauan harga (affordability), impor BBM yang dilakukan saat ini sebagian besar harus disubsidi.

Oleh karena itu, strategi pemerintah untuk mengurangi defisit meliputi, pertama adalah meningkatkan lifting migas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.