Industri Jadi Penopang Utama, Surplus Dagang RI Tak Tergoyahkan 71 Bulan
📅 Senin, 04 Mei 2026, 18:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Tren surplus neraca perdagangan menunjukkan bahwa nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan impor, mencerminkan daya saing eksternal yang relatif terjaga.
Kondisi ini umumnya didorong oleh kinerja komoditas unggulan, permintaan global yang stabil, serta pengendalian impor pada barang konsumsi maupun bahan baku tertentu.
Secara makroekonomi, surplus yang berkelanjutan dapat memperkuat cadangan devisa dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun, ketergantungan pada komoditas tertentu tetap menjadi risiko, terutama jika terjadi pelemahan harga global atau penurunan permintaan dari mitra dagang utama.
Oleh karena itu, diversifikasi ekspor menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan surplus dalam jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan Indonesia kembali melanjutkan tren surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut hingga Maret 2026, dengan kinerja terutama ditopang oleh ekspor sektor nonmigas, khususnya industri pengolahan.
"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020 yang lalu,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (4/5).
Dijelaskan dia, neraca perdagangan barang Indonesia pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS, yang ditopang oleh surplus komoditas nonmigas mencapai 5,21 miliar dolar AS, dengan subsektor kontributor utama yakni lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, neraca perdagangan migas masih mencatat defisit sebesar 1,89 miliar dolar AS, dengan komoditas penyumbang defisit berasal dari minyak mentah, hasil minyak, dan gas.
Adapun secara kumulatif, sepanjang Januari-Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 5,55 miliar dolar AS yang ditopang oleh surplus nonmigas, termasuk industri pengolahan sebesar 10,63 miliar dolar AS, sementara sektor migas mengalami defisit 5,08 miliar dolar AS.
Dari sisi ekspor, total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Maret 2026 mencapai 66,85 miliar dolar AS atau naik 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Angka ekspor migas tercatat 3,25 miliar dolar AS atau turun 10,58 persen, sementara itu, ekspor nonmigas tumbuh 0,98 persen menjadi 63,60 miliar dolar AS.
Ateng menjelaskan, peningkatan ekspor nonmigas secara kumulatif terutama didorong sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama kenaikan ekspor.
“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang periode Januari sampai dengan Maret tahun 2026 dengan andil terhadap kenaikannya 3,15 persen,” kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!