GSW Terintegrasi Tol Semarang–Demak Bukan Wacana, BOPPJ Sebut Sudah Dibahas
📅 Senin, 23 Feb 2026, 17:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Aji Styawan.
JAKARTA – Pembangunan Giant Sea Wall (GSW) yang terintegrasi dengan Tol Semarang–Demak merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa Tengah.
Integrasi ini memungkinkan fungsi proteksi pesisir berjalan beriringan dengan penguatan konektivitas transportasi, sehingga infrastruktur tidak hanya berperan sebagai tanggul laut, tetapi juga sebagai koridor ekonomi.
Secara ekonomi, keberadaan GSW yang terhubung dengan tol dapat melindungi kawasan industri, pelabuhan, serta permukiman padat dari risiko kerugian akibat genangan berkepanjangan.
Pendekatan terpadu ini juga mencerminkan efisiensi pembiayaan, karena satu proyek melayani dua kepentingan sekaligus: mitigasi bencana dan peningkatan mobilitas logistik.
Jika dirancang berbasis proyeksi perubahan iklim jangka panjang dan tata ruang yang disiplin, integrasi GSW dan Tol Semarang–Demak berpotensi menjadi model infrastruktur adaptif bagi wilayah pesisir lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mengatakan kemungkinan Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) nantinya terintegrasi dengan Tol Semarang-Demak sudah dibicarakan oleh pemerintah.
"Ada, sudah dibicarakan," ujar Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf dalam media briefing di Jakarta, Senin (23/2).
Pemerintah Republik Indonesia melalui BOPPJ menegaskan bahwa pengembangan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa, termasuk Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW), merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir Pantura Jawa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perlindungan pesisir yang dikembangkan tidak dimaknai semata sebagai pembangunan tanggul laut, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang mengombinasikan tanggul laut (offshore dike), tanggul pantai (onshore dike), serta solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti penguatan ekosistem mangrove.
Wilayah Pantai Utara Jawa, menurut dia, menghadapi tantangan serius berupa penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, banjir akibat hujan, serta banjir rob yang berdampak pada permukiman, kawasan industri, pelabuhan, bandara, lahan pertanian, berkurangnya garis pantai dan daratan, serta infrastruktur strategis nasional.
Saat itu sekitar 17 juta penduduk berada di wilayah terdampak, sementara kawasan tersebut memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Secara konseptual, Didit mengatakan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa direncanakan mencakup wilayah sepanjang kurang lebih 535 kilometer yang tersebar di lima provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta lima wilayah kota dan 25 wilayah kabupaten.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan Jalan Tol Semarang-Demak akan terintegrasi dengan Tanggul Laut Raksasa/Giant Sea Wall sekaligus untuk menanggulangi rob yang kerap terjadi di Semarang dan sekitarnya serta kawasan industri Terboyo.
Dody mengatakan pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak yang terintegrasi dengan tanggul laut ini, diharapkan menjadi solusi permanen permasalahan banjir rob di kawasan Semarang, khususnya pada Jalur Pantura Semarang-Demak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!