Hujan Ekstrem Picu Bencana Longsor dan Banjir di Banyumas dan Purbalingga
📅 Senin, 04 Agu 2025, 15:50 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
CILACAP - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem yang mengguyur Kabupaten Banyumas dan Purbalingga pada Minggu (3/8) sore hingga malam hari menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo di Cilacap, Senin (4/8), mengatakan bahwa intensitas hujan yang tinggi dipicu oleh kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya awan hujan dalam jumlah besar dan menjulang tinggi.
“Data curah hujan di wilayah Banyumas menunjukkan hujan sangat lebat terjadi di Baturraden dengan intensitas 139 milimeter, sedangkan hujan ekstrem terjadi di Balai Desa Sumbang (195 milimeter) dan Balai Desa Ketenger (205 milimeter),” katanya.
Sementara di wilayah Kabupaten Purbalingga, kata dia, hujan sangat lebat terjadi di Trenggiling (105 milimeter), Talagening (131 milimeter), Karanganyar (130 milimeter), dan Dinas Pekerjaan Umum Purbalingga (141 milimeter).
Menurut dia, hujan ekstrem di Purbalingga tercatat di Losari (Kecamatan Rembang) yang mencapai 286 milimeter serta di Banjarkerta yang sebesar 205 milimeter. “Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya intensitas hujan di dua wilayah tersebut,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan salah satu penyebabnya berupa adanya bibit siklon tropis 90S yang terpantau di wilayah Samudra Hindia barat daya Pulau Jawa, sehingga memicu perlambatan angin dan meningkatkan pembentukan awan hujan di sekitar wilayah Jawa Tengah.
Selain itu, kata dia, anomali suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Tengah juga menambah potensi penguapan, yang selanjutnya memperkuat pembentukan awan konvektif. “Kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer juga terpantau dalam kondisi basah, serta kondisi labilitas udara yang cenderung labil ikut memperkuat peluang terbentuknya hujan lebat. Faktor lokal seperti topografi juga berpengaruh kuat," katanya.
Terkait dengan hal itu, dia mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan di wilayah Jawa Tengah, khususnya Banyumas dan Purbalingga, untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi susulan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga mengingatkan agar masyarakat memanfaatkan informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG, baik melalui aplikasi Info BMKG, media sosial resmi, maupun kanal-kanal komunikasi lainnya.
"BMKG terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan kami akan terus menyampaikan informasi peringatan dini kepada masyarakat," katanya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menyatakan bencana hidrometeorologi berupa tanah longsor dan banjir melanda lima kecamatan di wilayah itu akibat hujan lebat yang terjadi pada Minggu (3/8) sore hingga malam hari.
Dalam hal ini, lebih dari 20 titik longsor dan dua titik banjir luapan terjadi di sejumlah desa.
Sementara di Kabupaten Purbalingga, tiga pekerja proyek pembangunan pembangunan saluran air belum diketahui keberadaannya setelah terjebak banjir bandang di Sungai Klawing, Kecamatan Kaligondang, pada Minggu (3/8) malam, dan hingga saat ini masih dalam pencarian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!