Hadapi Tekanan Ekonomi, Purbaya Siapkan Skenario Defisit APBN Lebih Besar
📅 Jumat, 13 Mar 2026, 22:59 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka ruang pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di atas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) mencerminkan adanya antisipasi terhadap tekanan ekonomi yang berpotensi meningkat.
Opsi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menyiapkan ruang kebijakan fiskal yang lebih fleksibel untuk merespons perlambatan ekonomi, gejolak global, maupun kebutuhan belanja strategis.
Namun, langkah ini juga menuntut kehati-hatian karena pelebaran defisit berisiko meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang serta dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap kredibilitas pengelolaan fiskal jika tidak diimbangi dengan strategi konsolidasi yang jelas dalam jangka menengah.
Purbaya, saat dikonfirmasi wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3), mengatakan keputusan mengenai penyesuaian defisit APBN akan mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto, mengingat fungsi menteri berperan sebagai pembantu presiden.
"Kalau perintah kan kami jalankan. Saya kan cuma tangan presiden," kata Purbaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Opsi pelebaran defisit muncul akibat tekanan gejolak geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel, yang mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian global.
Terkait tekanan tersebut, Purbaya menyatakan akan terus menghitung dampak kenaikan harga minyak terhadap APBN.
Keputusan penyesuaian APBN pun akan berfokus pada potensi risiko itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar makroekonomi dengan menghitung setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun.
Pada asumsi makro APBN 2026, ICP ditetapkan pada level 70 dolar AS per barel.
Bila harga minyak bertahan di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun dan tidak ada intervensi dari pemerintah, maka defisit APBN bisa mencapai 3,7 persen PDB.
Meski begitu, Menkeu memastikan pengelolaan APBN sejauh ini dilakukan secara hati-hati.
Bila ditinjau dalam perspektif yang lebih luas, lanjut dia, defisit fiskal yang melebar juga berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada 2025, misalnya, Indonesia mampu mencetak pertumbuhan yang relatif cepat ke level 5,11 persen (year-on-year/yoy) dengan defisit 2,92 persen PDB.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!