Gerakan Pawtective Siren Luncurkan Kalung Alarm Pintar untuk Cegah Kekerasan terhadap Anjing Jalanan
📅 Sabtu, 14 Feb 2026, 23:07 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Pawtective Siren
JAKARTA – Status Indonesia yang sempat menempati peringkat pertama dunia dalam unggahan konten penyiksaan hewan menurut laporan SMACC 2021. Gerakan Pawtective Siren, gerakan masyarakat sipil muncul untuk membuat terobosan teknologi diperkenalkan untuk memutus rantai kekejaman tersebut.
Untuk sebagai solusi preventif bagi anjing anjing liar yang rentan menjadi korban penyiksaan, Gerakan Pawtective Siren secara resmi meluncurkan inovasi kalung beralarm pintar berbasis sensor detak jantung.
Langkah ini diambil menyusul kondisi kritis kapasitas shelter di kota kota besar yang telah melebihi batas. Dengan populasi anjing nasional yang diperkirakan mencapai 16 juta ekor menurut data One Health Roadmap Kemenkes RI, perlindungan fisik berupa penampungan saja dinilai tidak lagi mencukupi.
perwakilan gerakan Pawtective Siren dari Komunitas Hope for Strays, Jeremy Randolph menegaskan, bahwa pendekatan preventif berbasis teknologi dibutuhkan untuk menjangkau area yang selama ini luput dari pengawasan.
“Selama ini shelter dan relawan bekerja luar biasa keras, tetapi mereka lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian. Sementara kekerasan sering terjadi di lokasi sepi atau malam hari tanpa saksi. Pawtective Siren kami rancang sebagai perlindungan langsung di lokasi, sebelum kekerasan itu menjadi fatal,” jelasnya melalui keterangannya pada hari Jumat (13/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Sains di Balik Pawtective Siren: Mendeteksi Trauma Secara Real Time
Inovasi ini mengadopsi teknologi smart health collar yang dirancang untuk membaca respons fisiologis anjing saat mengalami ketakutan ekstrem. Berdasarkan pengujian tim pengembang, detak jantung anjing dalam kondisi normal berada pada kisaran 70 sampai 120 detak per menit. Namun saat mengalami trauma atau ancaman serius, detaknya dapat melonjak hingga 130 sampai 250 detak per menit.
Dengan ambang batas 130 BPM sebagai indikator kondisi darurat, sistem akan secara otomatis mengaktifkan sirene berkekuatan 100 sampai 110 dB serta lampu LED berkedip berintensitas tinggi. Alarm ini dirancang untuk menarik perhatian publik dalam radius 100 sampai 300 meter di area terbuka, terutama pada malam hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
„Sistem Smart Off memastikan alarm berhenti otomatis saat detak jantung kembali stabil di bawah 120 BPM guna meminimalkan stres lanjutan pada hewan,“ kata Jeremy
Menurutnya, akurasi sensor menjadi kunci utama agar perangkat tidak aktif secara keliru. Pihaknya tidak ingin alat ini berbunyi saat anjing hanya bermain atau berlari biasa. Karena itu pengujian dilakukan untuk memastikan lonjakan yang terdeteksi benar benar merepresentasikan kondisi panik atau ancaman serius.
Aktivis: Perlindungan Hewan Butuh Pencegahan dan Kesadaran Publik
Aktivis perlindungan hewan Melanie Subono turut menyoroti bahwa persoalan kekerasan terhadap anjing jalanan tidak bisa hanya diselesaikan dengan regulasi atau kerja penyelamatan semata. Relawan selama ini lebih banyak menyelamatkan setelah kejadian, bukan mencegah.
”Regulasi saja tidak cukup. Kita butuh kerja sama semua pihak, dari edukasi di rumah, media sosial, sampai pengawasan publik. Yang paling penting, masyarakat harus benar benar menyadari bahwa hewan itu juga makhluk hidup. Mereka bisa takut, bisa trauma, dan bisa kehilangan kepercayaan pada manusia,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi shelter yang overcapacity menjadi bukti bahwa pendekatan penampungan semata tidak akan pernah cukup jika akar masalahnya tidak disentuh. Jika hanya mengandalkan shelter, itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Pencegahan harus diperkuat, dan masyarakat luas juga perlu dijadikan target edukasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!