Filipina Bertekad Dorong Kemajuan Kode Etik LTS
📅 Kamis, 23 Okt 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/CHARLY TRIBALLEAU
SINGAPURA - Filipina berharap dapat memajukan kode etik untuk Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang telah lama tertunda saat mengambil alih kepemimpinan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (Asean) tahun depan. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa Lazaro, dalam sebuah sesi wawancara dengan Channel News Asia yang disiarkan Rabu (22/10).
Sejak tahun 1990-an, blok regional tersebut telah berupaya menegosiasikan kerangka kerja untuk mengelola sengketa di salah satu jalur perairan paling diperebutkan di dunia dengan Tiongkok. Namun, perundingan berulang kali terhenti karena berbagai alasan.
Hingga pada 2023, Asean dan Tiongkok menyepakati pedoman untuk mempercepat negosiasi dengan tujuan menyelesaikan kode tersebut dalam waktu tiga tahun.
"(Percepatan) itu akan terjadi pada tahun 2026, tahun kepemimpinan kami," kata Menlu Lazaro. "Kami masih punya waktu. Kami bermaksud untuk melanjutkan pertemuan kelompok kerja bersama (dan) menjajaki kemungkinan adanya kode etik ini," imbuh dia.
Filipina akan mengambil alih kepemimpinan bergilir Asean dari Malaysia pada 2026, menempatkan Manila pada posisi penting untuk membentuk agenda blok tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menlu Lazaro menambahkan bahwa Filipina tetap berkomitmen untuk mempromosikan tatanan berbasis aturan dan mengupayakan dialog diplomatik di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di wilayah yang disengketakan.
Saat ini Tiongkok mengklaim hampir seluruh LTS, posisi yang tumpang tindih dengan empat negara tetangga di Asia Tenggara yaitu Malaysia, Brunei, Filipina, dan Vietnam. Sengketa yang belum terselesaikan mengenai kepemilikan pulau dan fitur maritim ini telah berlangsung selama beberapa dekade.
Menlu Lazaro mengakui bahwa membentuk sikap Asean yang bersatu telah lama menjadi tantangan, mengingat beragamnya kepentingan politik, ekonomi, dan strategis blok tersebut. Namun, ia mengatakan negara-negara anggota memiliki keinginan bersama untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Keberagaman negara-negara anggota Asean adalah fakta. Kita memang pernah mengalami masalah, namun ada saatnya pula bagi kita untuk mencapai konsensus. Semua orang menginginkan perdamaian dan keamanan di LTS, bukan hanya negara-negara penggugat,” tutur dia.
Tetapkan Pedoman
Mengutip Deklarasi Perilaku (DoC) Para Pihak di LTS 2022 yang ditandatangani antara Asean dan Tiongkok, Menlu Lazaro mengatakan perjanjian tersebut membuktikan bahwa konsensus dapat dicapai meskipun terdapat perbedaan.
Kode yang diusulkan berupaya menetapkan pedoman tentang bagaimana negara harus bersikap dalam mengelola sengketa wilayah dan mencegah kebuntuan atau bentrokan.
Namun deklarasi tersebut tetap tidak mengikat dan sering diabaikan oleh negara-negara penggugat, khususnya Tiongkok, yang telah membangun dan memiliterisasi beberapa pulau di perairan yang disengketakan.
“Menurut pandangan kami, hal ini harus mengikat secara hukum, dan ini sudah menjadi kode etik,” ucap Menlu Lazaro.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!