Coco Gauff Masih Dominasi Lapangan Keras, Juara Wuhan Open
📅 Selasa, 14 Okt 2025, 02:34 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: ist
WUHAN - Petenis unggulan ketiga Coco Gauff menuntaskan duel sesama petenis Amerika Serikat dengan sempurna. Petenis muda berusia 21 tahun itu menaklukkan Jessica Pegula 6-4, 7-5 di final Wuhan Open, Minggu (12/10) malam waktu setempat, untuk merebut gelar WTA 1000 ketiganya sepanjang karir.
Gauff mengangkat trofi setelah bertarung selama 1 jam 42 menit tanpa kehilangan satu set pun sepanjang turnamen di kota Wuhan, Tiongkok bagian tengah. Kemenangan ini juga menjadikan Gauff sebagai petenis pertama di Era Terbuka yang memenangi sembilan final lapangan keras pertamanya secara beruntun. Ini sebuah catatan yang terakhir kali dicapai Serena Williams satu dekade lalu.
Pertemuan final ini menjadi yang pertama antara Gauff dan Pegula sejak keduanya sempat berpasangan di nomor ganda dan meraih gelar bersama di Miami serta Doha pada tahun 2023. Namun, kali ini, persahabatan itu berubah menjadi pertarungan sengit di lapangan.
Gauff memulai laga dengan agresif, merebut enam poin pertama dan langsung unggul 3-0. Pegula berusaha bangkit, mencuri servis lawan lewat pukulan backhand keras di gim ketujuh untuk menyamakan kedudukan 4-4. Tapi Gauff kembali menemukan celah di dua gim terakhir dan menutup set pertama dalam 47 menit.
Set kedua menjadi ujian sesungguhnya bagi juara Prancis Open 2024 itu. Gauff sempat tertinggal 0-3 setelah dua kali kehilangan servis akibat enam kali melakukan double fault. Namun perubahan ritme permainan dan konsistensi dari baseline membuatnya mampu membalas dengan dua kali break untuk menyamakan skor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pegula sempat memimpin lagi lewat drop shot cerdik, tetapi Gauff merespons dengan memenangkan 10 poin beruntun. Saat pukulan voli Pegula melenceng di poin terakhir, Gauff menatap langit dan mengangkat tangan merayakan kemenangan.
Bagi Gauff, ini menjadi gelar ke-11 dalam karir tunggalnya di WTA. Dia menambah koleksi gelar WTA 1000 setelah Cincinnati (2023) dan Beijing (2024). Tahun ini, dia juga sudah mencapai tiga final level tertinggi tersebut, seperti menjadi runner-up di Madrid dan Roma.
“Ketika saya baru naik ke tur, Pegula adalah salah satu orang pertama yang menyambut dengan hangat. Saya sangat menghargai,” ujar Gauff saat seremoni penyerahan trofi. “Senang rasanya akhirnya bisa bertemu kamu di final,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Pegula, unggulan keenam berusia 31 tahun, baru saja menumbangkan petenis nomor satu dunia, yang juta juara bertahan, Aryna Sabalenka, di semifinal. Dia dikenal sebagai “ratu tiga set.” Pegula memainkan 27 laga tiga set sepanjang tahun dan memenangi tujuh dari delapan pertandingan terakhirnya.
Namun, kali ini, Gauff menolak memberi peluang perpanjangan laga. “Saya tahu kamu kuat di tiga set, jadi saya bertekad menuntaskannya dalam dua,” ucap Gauff sambil tersenyum. Dengan kemenangan di Wuhan ini, Coco Gauff kembali menegaskan statusnya sebagai penerus dominasi tenis putri AS di panggung dunia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!