Setelah Pendingin Supermarket, Kini Bank Darah Prancis Kini Jadi Sasaran Serangan Siber
Kamis, 05 Nov 2026, 00:02 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
PARIS – Serangan siber yang belakangan melanda sejumlah negara Eropa semakin mengkhawatirkan. Setelah sebelumnya menyasar sistem pendingin supermarket hingga menyebabkan kerugian makanan jutaan euro, kini peretas diduga mengincar fasilitas penyimpanan produk darah vital di Prancis.
Layanan darah nasional Prancis atau Établissement Français du Sang (EFS) mengungkapkan bahwa peretas telah berhasil mengakses sistem pengendali suhu di tiga gudang pendingin yang menyimpan berbagai produk darah.
Akibat serangan tersebut, pengaturan suhu dan sistem pencairan es pada fasilitas pendingin dinaikkan hingga mencapai tingkat yang disebut sangat tinggi.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (4/11), insiden tersebut terjadi pada Senin malam. Meski demikian, EFS memastikan produk darah yang tersimpan tidak sampai mengalami kerusakan.
Sistem alarm yang dimiliki lembaga tersebut memungkinkan teknisi segera mengetahui perubahan suhu dan melakukan tindakan sebelum produk-produk vital itu terdampak.
Sebaiknya Anda baca juga:
EFS merupakan lembaga publik yang bertanggung jawab mengumpulkan, menguji, mengolah, dan mendistribusikan produk darah, termasuk darah utuh, plasma, dan trombosit.
Lembaga tersebut memasok kebutuhan lebih dari 1.900 rumah sakit di seluruh Prancis dan mendukung perawatan lebih dari satu juta pasien setiap tahunnya.
Serangan terhadap fasilitas penyimpanan darah ini menjadi perkembangan baru dalam rangkaian insiden siber yang menargetkan sistem pendingin di Eropa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, lemari pendingin dan freezer di sejumlah jaringan supermarket di hampir selusin negara Eropa mengalami gangguan setelah sistem pengendaliannya diretas.
Pada Selasa, peritel di Italia, Jerman, Rumania, dan Inggris turut melaporkan masalah serupa. Sehari sebelumnya, gangguan telah dilaporkan di Belgia, Estonia, Irlandia, Finlandia, Luksemburg, Belanda, dan Swedia.
Akibat serangan tersebut, suhu lemari pendingin supermarket meningkat hingga 50 derajat Celsius. Kondisi ini menyebabkan berbagai produk makanan rusak dan menimbulkan kerugian hingga jutaan euro.
Pada gelombang serangan sebelumnya di Prancis bulan lalu, peretas bahkan berhasil menguasai unit pendingin di sekitar 700 supermarket.
Rangkaian insiden tersebut memunculkan kekhawatiran karena sasaran serangan tidak lagi terbatas pada sistem teknologi informasi biasa, tetapi juga menyentuh infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Selain fasilitas penyimpanan darah, cabang regional bank Crédit Mutuel di Prancis juga mengumumkan pada Rabu bahwa mereka menjadi korban serangan siber.
Kekhawatiran serupa juga muncul di Amerika Serikat. Pada awal Agustus, sejumlah lemari pendingin di toko kebutuhan sehari-hari yang berada di sedikitnya enam pangkalan militer mengalami kerusakan misterius. Pentagon dilaporkan tengah menyelidiki dugaan adanya peretasan.
Pemerintah dan otoritas keamanan Eropa kini mulai meningkatkan koordinasi untuk menghadapi ancaman tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!