Staf PBB Tewas dalam Tahanan Houthi, Antonio Guterres Tuntut Penjelasan
Minggu, 01 Nov 2026, 16:12 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
NEW YORK CITY - Seorang staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditemukan meninggal dunia setelah lebih dari dua tahun ditahan kelompok Houthi di Yaman. Kematian tersebut memicu kemarahan PBB yang mendesak penyelidikan independen untuk mengungkap penyebab dan kondisi di balik meninggalnya korban.
Ironisnya, keluarga korban baru diberi tahu mengenai kematiannya setelah lebih dari sebulan peristiwa tersebut terjadi.
Dari Al Jazeera, korban bernama Mohammad el-Shami, staf Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Yaman. Ia dilaporkan meninggal saat berada di pusat penahanan kelompok Houthi.
Dalam pernyataan pada Sabtu (31/10), PBB mengatakan keluarga el-Shami baru-baru ini menerima pemberitahuan mengenai kematian tersebut, meskipun peristiwa itu telah terjadi lebih dari sebulan sebelumnya.
Hingga kini, kelompok Houthi belum memberikan penjelasan mengenai penyebab maupun kondisi yang menyebabkan kematian staf PBB tersebut.
Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, mengecam situasi tersebut dan menuntut transparansi penuh dari otoritas Houthi.
"Keluarganya berhak mengetahui kebenaran," kata Turk.
Ia juga mendesak dilakukannya penyelidikan yang mendesak, independen, dan menyeluruh untuk mengungkap penyebab kematian el-Shami.
Turk sekaligus menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap tujuh personel OHCHR lainnya yang ditahan bersama korban dan hingga kini belum dibebaskan.
"Saya kembali memohon pembebasan mereka segera dan tanpa syarat," ujarnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyatakan keterkejutannya atas kematian el-Shami. Ia menggemakan tuntutan penyelidikan yang disampaikan Turk dan meminta kelompok Houthi memberikan penjelasan mengenai keadaan yang menyebabkan kematian staf tersebut.
PBB, kata Guterres, sangat membutuhkan jawaban atas peristiwa ini.
Dituduh sebagai Jaringan Mata-Mata Amerika-Israel
El-Shami telah ditahan sejak Juni 2024. Saat itu, kelompok Houthi menangkap lebih dari 60 orang yang bekerja untuk PBB dan sejumlah organisasi nonpemerintah (LSM).
Mereka dituduh terlibat dalam apa yang disebut Houthi sebagai "jaringan mata-mata Amerika-Israel".
Penangkapan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tindakan kelompok pemberontak yang didukung Iran terhadap pekerja organisasi internasional di wilayah Yaman yang mereka kuasai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!