Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol
Sabtu, 31 Okt 2026, 12:55 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Pemkot Bekasi
KOTA BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, menyayangkan warganya banyak yang terjerat pinjaman online (pinjol) maupun judi online (judol). Oleh karena itu ia mengajak warganya untuk menjauhi dua hal tersebut.
Dedi Mulyadi mengeluarkan siaran pers, Jumat (30/10) berkaitan dengan judol dan pinjol yang merebak di wilayahnya. Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukan warga Jawa Barat paling banyak terlibat judol.
Di provinsi ini warga melakukan praktik judi on line sebanyak 535.644 orang dengan nilai Rp3,8 triliun. Jumlah ini dua kali lipat dari warga DKI Jakarta yang melakukan judol yaitu 238.000 orang dengan nilai Rp2,3 triliun.
Di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 201.963 orang terlibat judi on line dengan nilai Rp1,3 triliun. Sedangkan dua provinsi di Jawa lainya yaitu Banten (150.302 orang/ Rp1,022 triliun) dan Jawa Timur (135.227 orang/ Rp Rp1,051 triliun).
Sedangkan untuk pinjaman on line, Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukan secara konsisten Jawa Barat menempati peringkat pertama. Warga Jawa Barat yang melakukan pinjol (fintech lending) sebanyak 5,02 juta akun peminjam dengan nilai Rp23,94 triliun.
Provinsi lainya yaitu DKI Jakarta sebanyak 2,48 juta akun peminjam dengan nilai Rp15,62 triliun. Sedangkan Jawa Timur: 2,05 juta akun peminjam dengan nilai Rp11,43 triliun.
Gubernur Jawa Barat tidak ingin wilayahnya menjadi provinsi dengan angka judol dan pinjol tertinggi di Indonesia, seperti yang saat ini terjadi. “Pesan saya, agar warga Jabar tidak menjadi ranking pertama pinjol dan judol di Indonesia,” kata dia.
Gubernur Dedi menyoroti masih banyaknya warga yang terjerat hutang demi gengsi. Ia mencontohkan pengalamannya saat berkunjung Majalengka dan bertemu warga yang menggelar hajatan dengan bermodal utang ke bank.
Dengan pola semacam itu kata dia, rantai hutang akan terus berlanjut. Padahal setelah menikah juga membutuhkan biaya yang juga tidak sedikit.
“Untuk itu ibu-ibu, bapak-bapak, cerdaslah dalam melakukan keuangan. Tinggalkan tradisi tekor asal kasohor,” kata dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!