Sempat Hampir Punah, Tabuhan Gamelan Madurejo Sleman Kini Menggelegar Lagi
Kamis, 29 Okt 2026, 17:50 WIB | Oleh: Alfred"Keinginan untuk ikut itu akan terbangun dengan sendirinya, setidaknya ada yang memulai dulu dan menjadikan ini sebagai kebiasaan," kata Hartoto.
Setiap sanggar berisi 15 hingga 20 orang dengan latar belakang yang beragam — pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya. Beberapa pelajar yang menjadi anggotanya duduk di bangku sekolah menengah, bahkan ada yang masih di sekolah dasar .
Festival tingkat lokal
Selama dua tahun sejak 2024, enam sanggar tersebut aktif menggarap beberapa karya seni karawitan hingga saat ini. Tembang macapat, dolanan bocah, dan variasi iringan lainnya selalu menjadi materi dalam setiap latihan.
Sebagai bentuk apresiasi, aparat Kalurahan Madurejo memberikan ruang berekspresi dan unjuk kebolehan bagi semua sanggar seni karawitan yang ada di wilayah tersebut melalui kegiatan rutin bertajuk "Garebeg Madurejo #3" yang diselenggarakan awal Oktober yang lalu.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, ada sebuah acara khusus untuk memberikan apresiasi kepada para pelestari seni karawitan, yakni Festival Karawitan bertajuk "Madurejo Gumblegur" yang telah terselenggara pada 3 Oktober.
Acara tersebut menarik perhatian warga karena menghadirkan tujuh perangkat gamelan dari enam sanggar seni karawitan dan satu set gamelan sepuh dari Kalurahan Madurejo dalam satu panggung.
Semua gamelan tersebut lalu dimainkan bersama-sama, seakan memberi isyarat bahwa darah seni karawitan masih mengalir dalam nadi kehidupan warga di sana.
"Setelah itu, masing-masing sanggar akan berkompetisi dalam penggarapan karya," kata Hartoto.
Aksan Pratama (24), anggota Sanggar Seni Puspa Laras Dusun Kembang, mengaku cukup antusias dengan perkembangan seni karawitan di dusunnya. Di sela-sela kesibukannya mengelola kedai kopi, dia menyempatkan diri untuk hadir pada setiap jadwal latihan.
"Saya sebagai pengendang sangat senang ada pengalaman baru dan kegiatan positif rutin di dusun," katanya.
Aksan mengatakan awalnya ia hanya sekadar coba-coba menjadi penabuh kendang, tetapi seiring berjalannya waktu, ia malah ketagihan dan sangat antusias belajar gamelan.
"Pertama belajar ya di sanggar ini, sampai sekarang udah lebih dari lima kali mengiringi pementasan karawitan maupun pertunjukan teater tradisional," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!