Harbolnas 2026 Segera Tiba, Ini 5 Strategi agar Brand Tetap Untung
Kamis, 29 Okt 2026, 19:30 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: ANTARA
JAKARTA - Periode Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) menjadi peluang besar bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan menjelang akhir tahun. Namun, Fynd mengingatkan bahwa lonjakan transaksi selama kampanye 10.10, 11.11, dan 12.12 perlu diimbangi strategi operasional agar brand tidak hanya mengejar omzet, tetapi juga menjaga keuntungan dan loyalitas pelanggan.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dikutip dalam materi Fynd, transaksi Harbolnas pada 2025 mencapai Rp36,4 triliun selama sepekan, meningkat 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai tersebut turut berkontribusi terhadap total transaksi berbagai program belanja akhir tahun yang mencapai Rp122,3 triliun, sementara penjualan brand lokal pada hari puncak kampanye disebut dapat melonjak tujuh hingga sembilan kali lipat dibandingkan hari biasa.
Meski menawarkan peluang besar, tingginya nilai transaksi atau gross merchandise value (GMV) tidak selalu mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Musim promo justru dapat memperbesar persoalan yang sudah ada, mulai dari margin yang menipis, ketidaksesuaian stok, kendala pengiriman, hingga rendahnya kemampuan mempertahankan pelanggan setelah diskon berakhir.
Melalui whitepaper bertajuk Megasale Playbook, Fynd merangkum lima strategi yang dapat diterapkan pelaku bisnis untuk menghadapi musim belanja akhir tahun. Strategi tersebut menitikberatkan pada penghitungan keuntungan, efisiensi operasional, pengelolaan data pelanggan, optimalisasi kanal penjualan, dan tindak lanjut setelah kampanye.
1. Hitung Keuntungan, Jangan Hanya Mengejar Omzet
Strategi pertama adalah menghitung keuntungan bersih dari setiap pesanan selama kampanye berlangsung. Menurut Fynd, penjualan yang tinggi belum tentu menghasilkan laba besar apabila tidak memperhitungkan diskon bertumpuk, komisi platform, biaya iklan, serta potensi pengembalian barang setelah periode promo.
Fynd menyarankan pelaku bisnis menyusun perhitungan laba-rugi atau Peak P&L pada tingkat pesanan. Perhitungan ini mencakup pendapatan kotor setelah dikurangi berbagai biaya penjualan dan cadangan retur yang mungkin terjadi pada Januari.
Dalam materi tersebut, Fynd menyebut total potongan platform dan logistik telah mencapai sekitar 10–20 persen dari harga jual setelah penyesuaian biaya platform pada Mei 2026. Kondisi ini membuat pelaku bisnis perlu menentukan batas minimum kontribusi keuntungan per pesanan atau contribution floor sebelum kampanye dimulai.
Dengan menetapkan batas tersebut, perusahaan dapat menghindari strategi diskon yang justru membuat penjualan merugi. Keberhasilan kampanye pun sebaiknya diukur berdasarkan keuntungan yang dihasilkan setiap kanal penjualan, bukan semata-mata besarnya omzet.
2. Benahi Stok dan Operasional Sebelum Promo Dimulai
Lonjakan pengunjung dan pesanan selama Harbolnas dapat memperbesar dampak kelemahan operasional. Fynd menyoroti sejumlah persoalan yang kerap muncul, seperti phantom stockout, yaitu kondisi ketika produk terlihat habis di toko online meskipun stok masih tersedia di toko fisik, serta overselling yang berujung pada pembatalan pesanan.
Pembatalan akibat ketidaksesuaian stok berpotensi memicu penalti dari platform dan menurunkan peringkat pencarian produk setelah kampanye. Karena itu, pelaku bisnis perlu memastikan data persediaan dari berbagai kanal penjualan terhubung dan diperbarui secara konsisten.
Persoalan pengelolaan stok juga penting bagi bisnis fesyen yang menghadapi tingkat pengembalian barang relatif tinggi. Dalam materi Megasale Playbook, Fynd menyebut sekitar 30–40 persen pesanan pakaian berakhir dengan retur, dengan 70 persen di antaranya disebabkan ukuran yang tidak sesuai.
Selain itu, sebagian besar paket di Indonesia disebut membutuhkan waktu lebih dari dua hari untuk sampai, bahkan pada pekan biasa. Untuk mengantisipasi lonjakan pesanan, brand disarankan menggabungkan data persediaan dari seluruh kanal ke dalam satu sistem pengelolaan stok agar ketersediaan produk lebih akurat dan pemenuhan pesanan berjalan lancar.
3. Bangun Hubungan dengan Pembeli Setelah Transaksi
Strategi berikutnya adalah memastikan brand tetap dapat membangun hubungan dengan pelanggan setelah transaksi selesai. Fynd menilai ketergantungan pada marketplace dapat membatasi akses langsung terhadap pembeli karena informasi transaksi dan komunikasi pelanggan mengikuti aturan masing-masing platform.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, brand perlu mengembangkan proses yang mengubah pembeli anonim menjadi pelanggan yang dapat dihubungi, dikenali, dijangkau, dan akhirnya memiliki hubungan berkelanjutan dengan brand. Proses ini dapat dimulai dengan memberikan alasan yang relevan bagi pelanggan untuk berinteraksi melalui kanal resmi perusahaan.
Salah satu caranya adalah menyertakan informasi pendaftaran garansi atau layanan penukaran ukuran di dalam paket pesanan. Dengan pendekatan tersebut, pelanggan memiliki manfaat yang jelas untuk menghubungi brand melalui kanal yang dikelola perusahaan sendiri.
Hubungan yang terbangun setelah pembelian juga dapat menjadi dasar untuk menawarkan layanan purnajual dan rekomendasi produk yang lebih sesuai. Dengan demikian, transaksi selama Harbolnas berpeluang berkembang menjadi pembelian berulang, bukan hanya aktivitas sesaat yang dipicu diskon.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!