5 Pelajaran Servant Leadership untuk HR agar Tim Makin Adaptif dan Inovatif
Kamis, 29 Okt 2026, 19:25 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Istimewa
JAKARTA - Jobstreet by SEEK menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia untuk membangun organisasi yang adaptif, kolaboratif, dan mampu menghadapi perubahan dunia kerja. Pendekatan ini mencakup penerapan servant leadership, pemahaman terhadap strategi bisnis, serta penciptaan lingkungan kerja yang mendukung inovasi dan pembelajaran berkelanjutan.
Pembahasan tersebut disampaikan Alberta Sekundarti, Country Director of People & Culture di Ascott Indonesia, dalam podcast Power Talks bertajuk "Servant Leadership untuk HR". Dalam episode tersebut, Alberta membagikan pengalamannya memimpin transformasi sumber daya manusia (SDM) di berbagai industri, termasuk menyelaraskan budaya organisasi setelah merger dan mengelola fungsi people and culture di industri perhotelan.
Dari diskusi tersebut, terdapat lima pelajaran yang dapat menjadi referensi bagi profesional HR dan pemimpin bisnis dalam mengembangkan tim serta meningkatkan kontribusi terhadap perusahaan. Kelima pelajaran itu meliputi kepemimpinan yang melayani, pemahaman bisnis, kemampuan beradaptasi, keamanan psikologis di tempat kerja, dan penyelarasan budaya organisasi.
1. Servant Leadership Menempatkan Tim sebagai Prioritas
Servant leadership merupakan pendekatan kepemimpinan yang menempatkan pemimpin sebagai pihak yang membantu anggota tim mencapai tujuan bersama. Menurut Alberta, pendekatan ini bukan berarti pemimpin kehilangan kewenangan untuk memberikan arahan, melainkan mendorong pemimpin agar lebih memahami kebutuhan tim dan menyediakan dukungan yang diperlukan.
Pemimpin perlu mendengarkan tantangan yang dihadapi anggota tim, membuka ruang dialog, serta memberikan masukan secara konstruktif. Pendekatan tersebut dapat membantu membangun kepercayaan sekaligus membuat anggota tim lebih siap menghadapi perubahan organisasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pada dasarnya servant leadership adalah bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang bisa melayani orang lain, melayani timnya. Seorang pemimpin itu tidak harus ada di atas, tapi ada di bawah," ujar Alberta.
Dalam situasi seperti merger atau transformasi perusahaan, gaya kepemimpinan ini dapat membantu mengurangi resistensi terhadap perubahan. Dengan melibatkan anggota tim dalam proses transformasi, pemimpin juga berpeluang mendorong mereka menjadi agen perubahan atau change agent.
2. HR Harus Memahami Arah dan Tujuan Bisnis
Pelajaran kedua berkaitan dengan pentingnya pemahaman bisnis bagi profesional HR. Alberta menilai HR perlu mengetahui visi jangka panjang perusahaan, prioritas bisnis, target yang ingin dicapai, serta indikator keberhasilan agar program pengelolaan SDM sejalan dengan kebutuhan organisasi.
Pemahaman tersebut memungkinkan HR menerjemahkan strategi perusahaan menjadi kebutuhan tenaga kerja, pengembangan kompetensi, dan program organisasi yang relevan. Dengan begitu, HR tidak hanya menjalankan fungsi administratif atau pendukung, tetapi juga berperan sebagai penggerak pertumbuhan bisnis.
"HR itu harus bisa jadi enabler bisnis, bukan hanya fungsi support," tegas Alberta.
Ia juga mendorong profesional HR memperluas wawasan di luar bidang yang dikuasai. Pengetahuan mengenai berbagai fungsi bisnis dapat membantu mereka memahami tantangan perusahaan secara lebih menyeluruh dan menghasilkan solusi yang memberikan dampak nyata.
3. Adaptasi Karier Membutuhkan Keberanian dan Pembelajaran
Alberta turut membagikan pengalamannya beralih profesi dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan HR. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perubahan karier membutuhkan keberanian keluar dari zona nyaman, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan mempelajari keterampilan baru.
Pengalaman dari profesi sebelumnya tetap dapat menjadi modal ketika seseorang memasuki industri berbeda. Kemampuan menghadapi situasi dengan cepat, membangun jejaring, dan mengelola krisis, misalnya, dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pekerjaan yang baru.
Meski demikian, pengalaman saja tidak selalu cukup untuk mendukung perkembangan karier. Profesional perlu mengenali kompetensi yang dibutuhkan industri tujuan, berani mengambil tanggung jawab baru, serta memperbarui kemampuan melalui pembelajaran dan sertifikasi.
"Never stop learning. Apapun yang menjadi konteks dari industri yang mau kita capai, kita harus tahu apa yang dibutuhkan," ungkap Alberta.
4. Psychological Safety Mendorong Inovasi Tim
Lingkungan kerja yang aman secara psikologis atau psychological safety juga menjadi faktor penting dalam membangun tim yang inovatif. Alberta menekankan perlunya menciptakan suasana yang memungkinkan anggota tim menyampaikan pendapat, mengajukan ide, dan berdiskusi tanpa takut langsung dihakimi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!