Uji Coba Vaksin Ebola Dimulai, WHO Dukung Upaya RD Kongo Selamatkan Nyawa Rakyatnya
📅 Sabtu, 24 Okt 2026, 12:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
JENEWA - Uji klinis pertama vaksin Ebola untuk wabah yang melanda Republik Demokratik Kongo dimulai hari Jumat (23/10), kata kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Wabah Ebola terburuk yang pernah terjadi di RD Kongo telah melewati angka 9.700 kasus, dengan jumlah kasus kematian melebihi angka 4.600.
Di antara banyak tantangan yang dihadapi dalam penanggulangan ini adalah kurangnya vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk spesies Bundibugyo dari Ebola yang menjadi penyebab epidemi tersebut.
Ervebo, vaksin yang disetujui untuk digunakan melawan strain Ebola Zaire yang lebih umum, akan menjalani uji klinis skala penuh pada manusia di RD Kongo untuk melihat apakah vaksin tersebut menawarkan perlindungan silang terhadap Bundibugyo.
Uji klinis dimulai dengan pemberian suntikan pertama Ervebo di Bunia, ibu kota provinsi Ituri di timur laut RD Kongo, yang merupakan pusat wabah.
"Sains memberi kita harapan. Hari ini, di Bunia, RD Kongo, peserta pertama divaksinasi dalam uji coba vaksin Ebola baru yang disebut Tumaini, yang berarti 'harapan' dalam bahasa Swahili," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di X.
"Uji coba ini akan membantu kita memahami apakah salah satu kandidat vaksin yang dirancang untuk virus Bundibugyo efektif," katanya. Sementara itu, vaksin Ervebo yang sudah ada akan diuji.
"WHO mendukung upaya yang dipimpin RD Kongo ini untuk menemukan jawaban dan menyelamatkan nyawa."
Dua Vaksin dalam Pengembangan
Yang disebut uji coba Tumaini adalah kerangka uji coba tunggal yang dapat menguji keamanan, kemanjuran, dan imunogenisitas beberapa vaksin.
Uji coba ini akan menggunakan pendekatan vaksinasi cincin: mengimunisasi kontak yang dianggap berisiko tinggi terkena infeksi.
Pemerintah sedang bersiap untuk memasukkan dua kandidat vaksin khusus Bundibugyo, yang saat ini sedang menjalani uji klinis tahap awal berskala kecil.
Salah satunya adalah vaksin vektor adenovirus ChAdOx1 yang sedang dikembangkan oleh Universitas Oxford; yang lainnya, oleh grup Moderna yang berbasis di AS, menggunakan teknologi mRNA.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!