Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perkembangan AI Terlalu Cepat Jadi Alarm bagi RI

📅 Selasa, 20 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Perkembangan AI Terlalu Cepat Jadi Alarm bagi RI Doc: antara
Ket. Meutya Hafid Menteri Komunikasi dan Digital - Karena inovasi harus tumbuh, tapi perlindungan terhadap kebutuhan manusia yang mendasar harus juga terlindungi.

Pemerintah harus mengarahkan pengembangan AI sesuai kapasitas nasional dan kepentingan masyarakat.

Bali - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin cepat memunculkan tantangan serius, mulai dari risiko kehilangan pekerjaan hingga kaburnya batas antara manusia dan teknologi di ruang digital. Pemerintah Indonesia pun dinilai harus memastikan inovasi AI tidak melaju melampaui kapasitas sumber daya manusia dan kesiapan regulasi.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan Indonesia mesti menentukan sendiri kecepatan pengembangan AI berdasarkan kapasitas nasional, tanpa sekadar mengikuti arah yang ditetapkan negara lain maupun perusahaan teknologi global.

"Kita, Indonesia, perlu meyakini bahwa kecepatan kita tidak boleh ditentukan oleh negara lain ataupun perusahaan teknologi. Tapi, kita tentukan sendiri secara berdaulat," kata Meutya, sebagaimana diberitakan Antara di Bali, Senin (19/10).

Meutya menyoroti perdebatan global mengenai laju inovasi AI dan risiko yang menyertainya. Ia mencontohkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mendorong peningkatan inovasi AI, sementara sejumlah perusahaan teknologi menilai pengembangannya berlangsung terlalu cepat dan harus diperlambat dengan mempertimbangkan berbagai risiko.

Menurut Meutya, Indonesia didorong menentukan arah dan kecepatan pengembangan AI yang sesuai dengan kemampuan nasional agar kebijakan pemerintah, langkah industri teknologi, dan kepentingan masyarakat dapat berjalan selaras.

Ia menekankan pentingnya menghimpun masukan dari para ahli, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lain, terutama untuk memastikan pengembangan AI mempertimbangkan kapasitas sumber daya manusia serta ketersediaan sumber daya.

"Karena inovasi harus tumbuh, tapi perlindungan terhadap kebutuhan manusia yang mendasar harus juga terlindungi," ujarnya.

Meutya mengatakan pemerintah juga menyiapkan regulasi dan peta jalan pengembangan AI serta menjalankan program peningkatan talenta digital untuk mendukung pengembangan dan pemanfaatan teknologi itu.

Tidak Kebablasan

Sementara itu, persoalan kesiapan regulasi juga menjadi perhatian kalangan akademisi. Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Sosial Universitas Airlangga, Frederik M. Gasa, menilai pemerintah harus merespons meluasnya penggunaan AI melalui perangkat regulasi yang memadai agar inovasi tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.

"Semakin maraknya penggunaan AI dalam berbagai sektor tentu sudah seharusnya direspon pemerintah Indonesia melalui perangkat regulasi yang ketat agar tidak kebablasan dan bahkan jadi bomerang bagi masyarakat," kata Frederik, yang juga dosen Komunikasi Politik Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang.

Ia menilai salah satu persoalan paling serius adalah semakin kaburnya batas antara manusia dan AI di ruang virtual. Kemampuan AI menghasilkan konten yang menyerupai karya atau interaksi manusia, menurut dia, dapat menyulitkan masyarakat membedakan informasi yang dihasilkan manusia dan mesin, terutama ketika literasi digital belum memadai.

"Banyak persoalan serius yang akan dihadapi masyarakat karena minimnya regulasi yang mengatur penggunaan AI. Misalnya dalam hal berinteraksi di ruang virtual, batasan antara manusia dan AI sangat blur. Parahnya, oleh karena 'kesempurnaan' yang diciptakan, manusia bahkan sulit bedakan antara AI dan real. Mana lagi literasi digital yang kurang kuat sebagai fondasi utama, justru memperburuk situasi ini," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...

Trump Tuding Zelenskyy Tak Ingin Akhiri Perang

41 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Trump Tuding Zelenskyy Tak ...
Luar Negeri
Filipina Panggil Dubes Tion...
Olahraga
Pemain Indonesia Saling Jeg...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.