Kabut Asap Ganggu Negara Tetangga, Riset BRIN Ungkap Pola Sebaran PM2.5 Karhutla di Asia Tenggara
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 15:45 WIB | Oleh: Tim PenulisBANDUNG - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tahun ini telah melintasi batas negara dan menganggu kegiatan warga di sejumlah wilayah di Asia Tenggara.
Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan penyebaran partikel halus PM2.5 dari karhutla serta wilayah yang menjadi sumber utamanya.
Peneliti Ahli Muda PRIMA, Ardhi Adhary Arbain, mengatakan PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
“Karena ukurannya, partikel ini menjadi salah satu perhatian penting dalam persoalan kualitas udara. Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujarnya, Jumat (2/10), dikutip dari laman BRIN.
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.
Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5.
“Hasil simulasi awal memperlihatkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator,” ungkapnya.
Ardhi mengungkapkan, pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand.
Simulasi juga memperlihatkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi di sejumlah wilayah sumber, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik, sementara pada titik tertentu nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus mencapai lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik.
Menariknya, ketika dibandingkan dengan Agustus 2015, sebaran PM2.5 pada 2026 dalam simulasi terlihat lebih terlokalisasi, tetapi konsentrasi di sejumlah titik sumber diperkirakan lebih tinggi. Terdapat pula indikasi penambahan kontribusi sumber polutan, yaitu Papua Selatan yang terlihat lebih dominan dibandingkan 2015.
Ia juga menegaskan bahwa hasil tersebut masih merupakan hasil penelitian yang sedang dikembangkan dan belum divalidasi. Artinya, hasil simulasi belum dibandingkan secara menyeluruh dengan data pengamatan lapangan untuk mengetahui tingkat akurasi model. Karena itu, angka dan pola sebaran yang dipaparkan belum dapat diperlakukan sebagai ukuran kualitas udara aktual di setiap lokasi.
Ke depan, tim peneliti juga mengembangkan pendekatan pemodelan lain untuk meningkatkan efisiensi simulasi. Salah satunya menggunakan model kimia CHIMERE secara offline, sehingga proses meteorologi dan kimia dapat dijalankan secara terpisah dan lebih fleksibel.
Kajian mengenai penyebaran PM2.5 tersebut menjadi salah satu pengetahuan yang dibagikan antarperiset dalam Coffee Morning PRIMA.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan forum tersebut juga dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan berbagai kegiatan riset di lingkungan PRIMA.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!