Kapitalisasi Nilai Ekonomi Jangka Pendek Lahan Gambut Merugikan Indonesia
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiDia pun mengusulkan pembentukan Badan Pembangunan Hutan Lindung yang berorientasi pada pemulihan ekosistem dalam jangka panjang. Sebab, kebijakan penanganan yang bersifat sementara tidak akan menyelesaikan persoalan apabila sumber kerusakan ekosistem tetap berlangsung.
Namun, konservasi gambut paparnya tidak berarti menghilangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ia menilai kawasan yang dipertahankan dapat menghasilkan nilai ekonomi melalui skema kredit karbon, pengembangan tanaman buah yang sesuai dengan lingkungan basah, serta peremajaan tanaman asli yang memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.
Di negara-negara maju, mereka tetap mempertahankan kawasan lindung tanpa meninggalkan kesejahteraan masyarakat. Indonesia, jelasnya dapat memperoleh manfaat dari penyimpanan karbon gambut melalui mekanisme internasional, termasuk pembayaran dari negara atau pihak yang menghasilkan emisi.
“Konservasi tanpa mengurangi kemajuan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Paradigma ekonomi yang hanya menghitung hasil langsung dari eksploitasi lahan dapat membuat manfaat ekologis gambut terabaikan. “Kita mencari nilai ekonomi, tetapi sebenarnya sambil bunuh diri,” katanya.
Jangan Disamakan Mineral
Pandangan serupa disampaikan Pakar Pertanian UGM, Sigit Supadmo Arief. Ia mengatakan gambut terbentuk melalui proses alam dalam waktu sangat panjang sehingga pengelolaannya tidak dapat disamakan dengan tanah mineral.
Sebaiknya Anda baca juga:
Persoalannya bukan memilih antara menjaga gambut atau memperoleh manfaat ekonomi, melainkan menentukan bentuk kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakter alam gambut.
“Manusia tidak bisa melawan alam yang kehilangan keseimbangan ekosistem. Gambut yang terbentuk ribuan tahun adalah bagian ilmu alam bahwa dia tidak bisa dikeringkan. Seperti ikan diminta keluar dari air,” kata Prof Sigit.
Indonesia katanya tidak harus kehilangan seluruh nilai ekonomi dari kawasan gambut. Namun, aktivitas ekonomi harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem, bukan dengan mengubah karakter dasarnya.
“Manusia harus menjadi komplementer dari alam, baru kita bisa memetik buah. Sebagai pemelihara alam, baru kita bisa memetik buah,” kata Sigit.
Pencegahan Lebih Penting
Lebih lanjut Azwar mengatakan pencegahan jauh lebih penting dibandingkan pemadaman setelah kebakaran meluas. Pemulihan fungsi tandon air, penataan kanal, penggunaan tanaman adaptif rawa atau gambut basah, serta sistem peringatan dini pada kawasan yang berulang kali mengalami kebakaran menjadi bagian dari upaya jangka panjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!