Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Warga, Wisatawan, dan Pendaki Dilarang Dekati Gunung Anak Krakatau dari Radius 5 Km akibat Erupsi

📅 Selasa, 20 Okt 2026, 13:43 WIB | Oleh:
Warga, Wisatawan, dan Pendaki Dilarang Dekati Gunung Anak Krakatau dari Radius 5 Km akibat Erupsi Doc: antara foto
Ket. Gunung Anak Krakatau erupsi

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melarang warga, wisatawan, dan pendaki, mendekati radius lima kilometer dari puncak menyusul status Level III (Siaga) serta rangkaian letusan beruntun yang dialami Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, perairan Provinsi Lampung-Banten, Selasa (20/10).

Kepala Badan Geologi Lana Saria di Jakarta, Selasa, menegaskan kepatuhan terhadap batas radius aman tersebut mutlak dilakukan mengingat aktivitas vulkanik gunung api tersebut terus menunjukkan peningkatan sepanjang hari ini.

Berdasarkan laporan pos pengamatan, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami tiga kali erupsi sepanjang Selasa. Letusan pertama terjadi pada pukul 06.27 WIB dengan amplitudo maksimum 67 milimeter dan durasi sekitar 3 menit 53 detik, disusul letusan kedua pada pukul 06.40 WIB beramplitudo 49 milimeter.

Rangkaian aktivitas vulkanik tersebut kemudian berlanjut pada siang hari, yakni letusan ketiga pukul 12.28 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter dan durasi 28 detik.

Sepanjang kejadian tersebut, tinggi kolom abu tidak teramati secara visual karena tertutup sebaran abu serta perangkat CCTV lapangan yang sempat tidak aktif.

Atas eskalasi aktivitas tersebut maka, kata Lana, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi tegas agar masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki, mematuhi larangan beraktivitas di dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Selain radius utama tersebut, pembatasan ketat juga diberlakukan di sektor barat laut dan tenggara. "Warga dilarang keras memasuki wilayah dalam radius satu kilometer dari kemunculan pulau baru di sekitar kawasan tersebut," kata dia.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya di zona merah, seperti lontaran batu pijar, hujan abu lebat, potensi aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak panas lava dengan air laut atau air hujan.

Kendati letusan terjadi beruntun, Badan Geologi mengimbau warga di pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang, tidak panik, serta tidak mudah mempercayai isu bohong mengenai potensi tsunami akibat erupsi tersebut.

Bagi masyarakat yang membutuhkan perkembangan data visual maupun instrumental secara aktual dapat menghubungi pusat layanan informasi Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Banten.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
Advertisement
jjroyal-luwak
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Rumor Kim Jong-un Meninggal karena Perdarahan Otak di Beijing Memanas, Muncul Foto Hadir di Pameran - Adiknya Diklaim Rebut Kekuasaan dan 9.000 Tentara Tiongkok Dikirim ke Korut

Rumor Kim Jong-un Meninggal karena Perdarahan Otak di Beijing Memanas, Muncul Foto Hadir di Pameran - Adiknya Diklaim Rebut Kekuasaan dan 9.000 Tentara Tiongkok Dikirim ke Korut

20 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.