Padi Tumbuh di Galon Bekas, Warga Wirobrajan Kembangkan Pertanian Terpadu
📅 Jumat, 25 Sep 2026, 21:10 WIB | Oleh: Eko S“Sementara potensi warga dapat disatukan melalui kelompok sehingga menghasilkan kegiatan yang lebih produktif. Praktik yang berhasil kemudian dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya,” katanya.
Menurut Hasto, ukuran keberhasilan pertanian terpadu tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah hasil panen. Keberlanjutan kegiatan, manfaat bagi warga, pertukaran pengetahuan, dan bertambahnya masyarakat yang terlibat juga menjadi indikator penting.
Karena itu, ia berharap panen perdana tersebut menjadi titik awal untuk memperkuat kelompok tani, memperbaiki pola budidaya, serta memperluas partisipasi warga dalam mengelola ruang-ruang produktif di kampung.
“Selain mendukung ketahanan pangan, pertanian terpadu juga dinilai memiliki nilai sosial. Kegiatan menanam, merawat tanaman, berbagi pengetahuan hingga menikmati hasil secara bersama-sama dapat memperkuat rasa memiliki, kepedulian terhadap lingkungan, dan kebersamaan antarwarga,” jelasnya.
Hasto juga menekankan pentingnya gotong royong dan kemandirian masyarakat agar kegiatan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Generasi muda, menurut dia, perlu ikut dilibatkan karena pertanian perkotaan dapat dikembangkan dengan teknologi, kreativitas, pengolahan hasil, pemasaran digital, hingga menjadi peluang usaha.
Ia berharap model yang dikembangkan warga Wirobrajan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas.
“Dari galon bekas, tumbuh padi. Dari lahan sempit, tumbuh sayuran. Dari kolam, tumbuh sumber protein. Dan dari kebersamaan masyarakat, tumbuh ketahanan pangan,” katanya.
Salah satu anggota Kelompok Tani Swa Katon Asri, Murharjo, mengatakan kelompok tersebut sebelumnya telah sekitar tiga tahun mengembangkan tanaman sayur-mayur. Budidaya padi menggunakan galon bekas baru dimulai sekitar tiga bulan lalu.
“Untuk padi dengan media galon bekas ini kami mulai baru 3 bulan lalu. Dalam praktiknya, kami juga dibantu oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta,” jelasnya.
Menurut Murharjo, varietas padi yang digunakan adalah Hibrida 32 dengan masa panen sekitar 110 hari. Ia mengatakan perawatan tanaman relatif mudah, terutama dalam pengaturan air.
“Perawatannya mudah sekali. Perawatannya begitu kita tanam yang penting airnya itu tidak berlebihan,” urainya.
Hingga panen perdana dilakukan, Murharjo mengaku belum menemukan kendala berarti dalam budidaya padi menggunakan galon bekas. Ia bahkan menyebut bulir padi yang dihasilkan terlihat cukup berisi.
Pertanian terpadu yang dikembangkan Kelompok Tani Swa Katon Asri menunjukkan pemanfaatan ruang terbatas di kawasan perkotaan untuk menghasilkan pangan dengan menggabungkan sejumlah komoditas dalam satu lingkungan. Inovasi tersebut sekaligus memanfaatkan kembali barang bekas yang masih dapat digunakan sebagai bagian dari kegiatan budidaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!