Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sistem Karbon Indonesia Perlu Jamin Unit Emisi Terukur dan Terpercaya

📅 Kamis, 24 Sep 2026, 23:10 WIB | Oleh:
Sistem Karbon Indonesia Perlu Jamin Unit Emisi Terukur dan Terpercaya Doc: Dok. Pemda DIY

YOGYAKARTA – Perdagangan karbon membutuhkan sistem yang mampu memastikan bahwa setiap pengurangan emisi yang diperhitungkan benar-benar terjadi. Untuk itu, pemerintah menilai pengukuran, pemeriksaan, hingga pencatatan unit karbon harus memiliki standar yang jelas agar nilai ekonomi yang melekat pada setiap unit dapat dipertanggungjawabkan.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan tantangan dalam mekanisme karbon terletak pada sesuatu yang tidak selalu dapat dilihat secara langsung. Pengurangan emisi atau peningkatan serapan harus diterjemahkan ke dalam angka sebelum kemudian memiliki nilai ekonomi.

“Kita berhadapan dengan sesuatu yang tidak selalu hadir di hadapan mata kita. Yang dicatat adalah pengurangan emisi, pengindaran emisi, atau peningkatan serapan yang kemudian diterjemahkan menjadi unit yang mempunyai nilai ekonomi. Maka setiap unit memerlukan asal-usul yang terang, setiap pengurangan perlu mempunyai dasar pengukuran, setiap fling perlu bersedia dipuji. Disinilah saya melihat kedudukan penting standarisasi, akreditasi, validasi, verifikasi, dan registrasi,” ungkap Sri Sultan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka acara Implementasi Kesiapan Infrastruktur Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dalam Mendukung Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon di Indonesia yang digelar Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Hotel Phoenix, Yogyakarta, Kamis (24/9/2026).

Menurut Sri Sultan, pencatatan unit karbon juga harus dapat ditelusuri. Hal itu diperlukan untuk memastikan setiap unit yang masuk dalam sistem memiliki dasar yang jelas sekaligus menghindari penghitungan manfaat pengurangan emisi yang sama lebih dari satu kali atau double counting.

Dengan demikian, standardisasi, akreditasi, validasi, verifikasi, dan registrasi tidak hanya berkaitan dengan prosedur teknis. Seluruh tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan terhadap mekanisme nilai ekonomi karbon.

Di tingkat daerah, Sri Sultan mencontohkan upaya DIY menjaga lingkungan dengan mempertimbangkan keterbatasan wilayah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghentikan aktivitas penambangan pasir di kawasan Merapi dan mengarahkan lahan tersebut untuk kegiatan perkebunan kopi.

"Ya, kalau kami di sini punya keterbatasan ya karena wilayahnya relatif kecil, sehingga kami bicaranya tidak merusak lingkungan lebih dulu saja. Seperti di Merapi dulu digali untuk diambil pasirnya, saya tutup semua, dengan dasar gunung kembali ke gunung, sehingga tidak ada lagi sekarang penambangan. Yang ada sekarang saya tanami kopi semua, bagi mereka yang tinggal di sekitar Merapi biar beralih dari nambang ke produk kopi," jelas Sri Sultan.

Ia menilai masyarakat membutuhkan waktu untuk memahami dan kemudian terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan ekonomi karbon. Karena itu, menjaga lingkungan sejak sekarang dinilai lebih penting sebagai upaya memastikan sumber daya alam tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.

"Karena memberikan kesadaran pada publik itu perlu waktu, perlu kesabaran gitu, tidak mudah. Ya kita jaga saja alam ini untuk tetap seperti tadi saya sampaikan gitu. Anak cucunya tetap bisa menikmati keselamatan dengan alam yang sama gitu," tutup Sri Sultan.

Sri Sultan juga mengingatkan agar keberadaan pasar karbon tidak menggeser tujuan utama pengendalian emisi. Pengurangan emisi tetap perlu dilakukan dari sumbernya, antara lain melalui penggunaan energi secara lebih efisien, teknologi yang lebih bersih, perbaikan proses produksi, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

“Ketepatan metode membuat kita mempunyai pengetahuan apa yang sesungguhnya terjadi. Kebijaksanaan memastikan agar apa yang kita lakukan membawa kehidupan menuju keadaan yang lebih baik,” lengkap Sri Sultan.

Sementara itu, Kepala BSN sekaligus Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN), Donny Purnomo Januardhi Effyandono, melihat transisi menuju ekonomi rendah karbon tidak sederhana. Indonesia tetap membutuhkan pertumbuhan industri, sementara sejumlah sektor industri dasar memerlukan energi dalam jumlah besar dan berpotensi menghasilkan emisi.

“Ketika kita diminta untuk membuat suhu bumi tidak lebih dari naik 1,5 derajat, kita perlu menurunkan emisi karbon. Tetapi di sisi lain, ketika kita butuh kemajuan, kita kemungkinan akan banyak menghasilkan emisi karbon,” jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Advertisement
Ubed Pahlawan Medali Emas, Indonesia Gulung Tiongkok 3-2

Ubed Pahlawan Medali Emas, Indonesia Gulung Tiongkok 3-2

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.