CFO Asia Tenggara Optimistis, Tapi Risiko Global Masih Mengintai
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 18:00 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohMenurut Liana, perubahan tersebut menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan di Indonesia semakin berkembang. Namun, kondisi ini juga menuntut CFO untuk memperluas perannya dari sekadar penyaji angka menjadi penghubung strategis yang mampu membaca perubahan dan memberikan insight secara tepat waktu.
Modernisasi fungsi keuangan juga semakin membutuhkan pemanfaatan artificial intelligence (AI) serta pengembangan sumber daya manusia. Berdasarkan CFO Pulse Survey, sebanyak 46 persen CFO telah menggunakan AI secara terbatas di area tertentu, sedangkan baru 12 persen yang menerapkannya secara luas.
Penerapan AI masih menghadapi sejumlah hambatan struktural di dalam perusahaan. Faktor biaya atau kebutuhan sumber daya menjadi kendala bagi 53 persen CFO, diikuti kesenjangan talenta dan keterampilan sebesar 50 persen serta persoalan kualitas data sebesar 43 persen.
Untuk mengatasi kesenjangan keterampilan tersebut, sebanyak 78 persen CFO menyatakan akan melakukan investasi dalam peningkatan keterampilan atau upskilling tenaga kerja. Langkah tersebut dinilai penting agar transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga didukung sumber daya manusia yang mampu menggunakannya secara optimal.
Di sisi lain, dukungan komite audit terhadap modernisasi teknologi dan pengembangan talenta masih dinilai belum ideal. Hanya 15 persen CFO yang menilai dukungan komite audit terhadap peningkatan teknologi sudah mendekati kondisi ideal, sedangkan dukungan terhadap pengembangan talenta berada di angka 33 persen.
Tantangan serupa terlihat dalam agenda perencanaan suksesi. Hanya 48 persen komite audit yang menempatkan perencanaan suksesi sebagai agenda prioritas, padahal kesiapan calon pemimpin berikutnya menjadi salah satu aspek tata kelola yang dapat dipersiapkan sejak awal.
“Adopsi AI tanpa rencana suksesi yang kuat ibarat mengotomatisasi kapal tanpa ada nahkoda yang mengendalikannya. Bagi CFO di Indonesia, peluang terbesarnya bukan sekadar efisiensi, melainkan memanfaatkan AI untuk meluangkan waktu bagi pengambilan keputusan krusial, sekaligus secara terarah memperkuat kesiapan talenta penerus,” tambah Liana.
Deloitte menilai upaya memperkecil kesenjangan tata kelola membutuhkan keterlibatan CFO dan komite audit secara bersamaan. Komite audit perlu mendukung investasi teknologi dan perencanaan suksesi sebagai bagian dari fondasi tata kelola, sementara CFO harus memastikan mekanisme assurance berjalan kuat agar informasi yang disampaikan tetap jelas dan organisasi dapat merespons perubahan secara cepat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!