Hari Kunjung Perpustakaan: Perpusnas Hadirkan Pameran Pengenalan Warisan Pengetahuan Nusantara
📅 Senin, 14 Sep 2026, 08:09 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menghadirkan pameran bertajuk "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" yang mengajak masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, mengenal kekayaan pengetahuan dan budaya Nusantara.
Pameran itu diselenggarakan dalam rangka Hari Kunjung Perpustakaan yang menjadi bagian dari upaya Perpusnas memperkuat pemanfaatan koleksi sebagai sumber pembelajaran dan pengetahuan publik.
"Selain menyimpan koleksi, perpustakaan juga menjaga ingatan bangsa agar terus dipelajari, dipahami, dan dimaknai oleh generasi berikutnya," kata Deputi bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Suharyanto dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Senin (14/9).
Melalui pengalaman yang lebih dekat, visual, dan mudah dipahami, masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa perpustakaan tidak hanya menyimpan koleksi.
Pameran "Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran" dapat menjadi ruang perjumpaan antara generasi masa kini dengan warisan pengetahuan Nusantara. Pameran tersebut menghadirkan berbagai warisan manuskrip Nusantara yang telah diakui dalam Ingatan Kolektif Nasional (IKON) dan Memory of the World (MOW).
Suharyanto menjelaskan manuskrip tidak hanya ditampilkan sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi ,sebagai warisan intelektual. Warisan tersebut merekam gagasan, pengetahuan, nilai, pengalaman, serta perjalanan kehidupan masyarakat pada masanya.
"Warisan dokumenter yang tersimpan dalam manuskrip dapat menjadi pintu masuk untuk memahami identitas, kebudayaan, dan perjalanan bangsa. Warisan dokumenter juga sekaligus menggali nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini," tutur dia.
Melalui pendekatan yang sederhana, komunikatif, dan visual, pameran dirancang untuk mendekatkan manuskrip Nusantara kepada generasi muda. Berbagai reproduksi manuskrip, ilustrasi, infografis, dan elemen visual interaktif digunakan untuk membantu pengunjung memahami cerita dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
Pameran itu dibagi dalam empat narasi utama. Pertama, "Warisan Indonesia untuk Dunia" memperkenalkan manuskrip sebagai rekaman perjalanan tokoh, peristiwa, gagasan, dan pengalaman masyarakat Nusantara yang memiliki arti penting pada tingkat lokal, nasional, hingga global.
Sejumlah manuskrip yang ditampilkan antara lain karya terkait Syekh Yusuf, Bo Sangaji, Sutasoma, Babad Diponegoro, Imam Bonjol, dan Trunojoyo.
Kedua, "Warisan Nilai Bersama" mengajak pengunjung melihat manuskrip sebagai media pewarisan nilai, pengetahuan, kepercayaan, dan tradisi antargenerasi. Beberapa contoh yang diperkenalkan di antaranya Panji, Sri Tanjung, Bo Sangaji, Primbon Tengger, serta Warisan Syekh Burhanudin Ulakan.
Ketiga, "Warisan Perempuan" menyoroti bagaimana manuskrip turut merekam pengalaman, peran, suara, serta kedudukan perempuan dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu. Narasi ini antara lain dihadirkan melalui Simbur Cahaya, Sri Tanjung, dan Panji.
Keempat, "Warisan Karya Istimewa" menghadirkan manuskrip dengan karakter khusus dari sisi isi, bentuk, bahasa, tradisi intelektual, maupun nilai dokumenternya. Di dalamnya terdapat Siksa Kandang Karesian, Babad Diponegoro, Nagarakretagama, La Galigo, Tambar Ni Hulit, Syair Hamzah Fansuri, dan Pecenongan.
"Keempat narasi yang disuguhkan dalam pameran ini menjadi upaya untuk mengubah cara pandang terhadap manuskrip. Pengunjung tidak hanya diajak melihatnya sebagai ‘benda lama’, tetapi memahami manuskrip sebagai sumber pengetahuan yang menyimpan cerita tentang manusia, masyarakat, pemikiran, nilai, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujar Suharyanto.
Melalui rangkaian tersebut, Hari Kunjung Perpustakaan tidak hanya menjadi momentum untuk mengajak masyarakat berkunjung ke perpustakaan, tetapi, juga memperluas pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang belajar, berkarya, berdiskusi, dan berinteraksi dengan pengetahuan.
Hari Kunjung Perpustakaan berawal dari gagasan Kepala Perpustakaan Nasional RI pertama, Mastini Hardjoprakoso. Pada 14 September 1995, Presiden Republik Indonesia Soeharto mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!