Merasa Sehat Belum Tentu Bebas Risiko: Hipertensi dan AFib Bisa Diam-Diam Mengancam
📅 Minggu, 13 Sep 2026, 16:47 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Omron
JAKARTA — Merasa sehat belum tentu berarti bebas dari risiko penyakit jantung dan stroke. Hipertensi yang kerap tidak bergejala serta atrial fibrillation (AFib) yang muncul tanpa disadari merupakan dua kondisi yang berpotensi tersembunyi di balik keseharian seseorang. Namun, keduanya dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk stroke.
Penyakit kardiovaskular dapat berkembang tanpa selalu menunjukkan gejala yang jelas. Menjelang World Heart Day yang diperingati setiap 29 September, isu ini kembali mendapat perhatian. Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”, yang mengajak masyarakat lebih peka terhadap tanda dan faktor risiko penyakit kardiovaskular yang terlewatkan.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan pengukuran tekanan darah. Namun, berdasarkan diagnosis dokter, prevalensinya hanya tercatat 8,6 persen. Gap angka ini menandakan masih banyak masyarakat yang mengidap hipertensi tetapi belum menyadari kondisi kesehatannya.
Kaitan Hipertensi, AFib, dan Stroke
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa hipertensi tidak hanya berkaitan dengan tingginya tekanan darah, tetapi juga menjadi faktor risiko utama berbagai gangguan kardiovaskular—salah satunya atrial fibrillation (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung tidak teratur.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Hipertensi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan irama seperti AFib,” ujar dr. Decsa.
Menurutnya, detak jantung yang tidak teratur pada kondisi AFib menyebabkan aliran darah di dalam jantung tidak optimal, sehingga memicu terbentuknya bekuan darah.
“Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, dapat terjadi stroke. Karena itu, pengendalian tekanan darah dan pemahaman terhadap kondisi irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular,” jelasnya.
Kaitan ini ditunjukkan dalam studi Framingham oleh Wolf dkk. (1991) terhadap 5.070 peserta. Penelitian mencatat hipertensi meningkatkan risiko stroke lebih dari tiga kali lipat, sementara AFib meningkatkan risiko stroke hampir lima kali lipat.
Pengalaman Penyintas Stroke
Pentingnya mengenali kondisi kesehatan sebelum muncul komplikasi dirasakan oleh Iwet Ramadhan, Business Owner, Co-Founder DVET Siaran Pagi IP, Head of Communications Yayasan Jantung Indonesia, sekaligus Brand Ambassador Omron. Sebagai penyintas stroke, Iwet mengaku pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap kesehatan.
“Saya pernah mengalami sendiri bagaimana masalah kesehatan bisa mengubah hidup. Setelah mengalami stroke, saya sadar bahwa merasa sehat dan tetap aktif bukan berarti kita sudah mengetahui kondisi kesehatan secara keseluruhan,” ujar Iwet.
Ia berharap masyarakat tidak perlu menunggu mengalami hal serupa untuk mulai memprioritaskan kesehatan jantung.
Kebiasaan Sehat Perlu Diikuti Pemantauan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!