Ketika Budaya Populer Masuk ke Dunia Dessert Jakarta
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 14:30 WIB | Oleh: Haryo BronoPendekatan semacam itu juga menjelaskan alasan festival kuliner semakin sering menggunakan tema budaya sebagai bagian dari identitas acara. Ketika makanan dipertemukan dengan musik, seni, desain, atau aktivitas komunitas, konsumen memperoleh alasan lain untuk datang selain mencicipi menu.
Hal tersebut terlihat pula dalam keterlibatan Butter Baby pada kegiatan Dessert Run 6K bersama Knots dan Vilo pada Minggu, 6 September 2026. Kegiatan ini membawa pengalaman Jakarta Dessert Week keluar dari ruang restoran dan toko.
Peserta memulai dan mengakhiri rute di Knots, sedangkan Butter Baby dan Vilo menjadi dua titik pemberhentian dessert. Di masing-masing titik, peserta mendapatkan sajian eksklusif yang berkaitan dengan Jakarta Dessert Week.
Konsep tersebut menggabungkan aktivitas olahraga, eksplorasi kota, kuliner, dan komunitas dalam satu kegiatan. Dengan demikian, dessert ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan, bukan sekadar tujuan akhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi industri kuliner, model seperti ini memberikan ruang untuk membangun hubungan yang lebih luas dengan konsumen. Produk makanan dapat menjadi pintu masuk menuju pengalaman lain, mulai dari kegiatan komunitas hingga eksplorasi budaya lokal.
Dalam penyelenggaraan JDW 2026, pendekatan tersebut mendapatkan konteks yang lebih kuat karena dangdut dipilih sebagai tema. Musik yang memiliki akar kuat dalam budaya populer Indonesia itu menjadi jembatan untuk mempertemukan dua subsektor yang selama ini berjalan relatif terpisah, yakni kuliner dan musik.
Melalui Bintang Pantura Series dan Dessert Run 6K, Butter Baby mengikuti arah tersebut dengan menghadirkan dessert sebagai bagian dari pengalaman budaya dan aktivitas komunitas. Perpaduan menu bertema dangdut dengan kegiatan lari menunjukkan bahwa festival dessert kini dapat berkembang menjadi ruang pertemuan antara makanan, gaya hidup, kreativitas, dan budaya populer.
Pada akhirnya, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman menikmati makanan semakin ditentukan bukan hanya oleh apa yang tersaji di atas piring, melainkan juga oleh cerita dan konteks yang mengitarinya. Di Jakarta Dessert Week 2026, cerita itu mengambil bentuk dangdut—musik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa dessert.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!