Inflasi Pangan Mengintai, CORE Desak Perkuat Manajemen Stok
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 20:25 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Inflasi pangan menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga daya beli masyarakat karena perubahan harga bahan pangan langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Kenaikan harga dapat dipicu oleh gangguan produksi, perubahan cuaca, distribusi, hingga ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
Karena itu, pengendalian inflasi pangan membutuhkan langkah antisipatif dan koordinasi yang kuat agar stabilitas harga tetap terjaga tanpa mengganggu kesejahteraan petani maupun konsumen.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai penguatan manajemen stok dan logistik pangan antardaerah penting untuk meredam risiko inflasi pangan di tengah kemarau yang berpotensi lebih panjang.
Menurut Faisal, kemampuan produksi bahan pangan berbeda di setiap daerah sehingga pengelolaan stok perlu menghubungkan wilayah yang memiliki kecukupan pasokan dengan daerah yang menghadapi kekurangan.
“Produksi bahan pangan, beras, dan lain-lain antardaerah ini kan berbeda-beda,” kata Faisal di Jakarta, Jumat (11/9).
Ia mengatakan koordinasi tersebut perlu ditopang pengelolaan logistik serta keseimbangan pasokan dan permintaan antardaerah agar gangguan produksi di suatu wilayah tidak langsung menimbulkan tekanan harga.
“Nah, sehingga perlu ada manajemen logistik dan juga supply demand antardaerah, ya, untuk bisa menekan inflasi itu tadi,” ujar dia.
Pengelolaan stok tersebut, menurut Faisal, menjadi semakin penting dalam beberapa bulan mendatang karena El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau dan mengganggu produktivitas pangan.
Ia menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal sehingga peralihan menuju musim hujan dapat berlangsung lebih lambat.
Kondisi itu, kata dia, perlu diantisipasi pemerintah dengan menjaga produktivitas bahan pangan pokok, memastikan distribusi berjalan lancar, serta memperkuat kerja sama antardaerah dalam pengelolaan stok.
Faisal menilai tekanan inflasi tetap perlu dicermati dalam kaitannya dengan kondisi daya beli masyarakat meskipun tingkat inflasi Agustus secara umum masih relatif rendah jika dilihat dalam siklus inflasi sepanjang tahun.
“Inflasi kalau kita hubungkan dengan kondisi daya beli masyarakat pada saat sekarang, ini tetap menjadi satu concern, walaupun kalau kita lihat tingkat inflasinya pada bulan Agustus itu sebetulnya relatif tidak tinggi,” ujar dia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan, sedangkan secara tahunan mencapai 3,19 persen dan secara tahun kalender sebesar 1,86 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!