DC: Aksi Brutal dengan Sinematografi Gelap yang Indah Memukau tentang Kisah Manusia yang Kehilangan Harapan
📅 Minggu, 06 Sep 2026, 00:39 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SAnirudh memperkuat energi film
Musik Anirudh Ravichander menjadi elemen penting lainnya.
Skor musiknya memberikan tenaga tambahan pada adegan-adegan aksi sekaligus mempertebal atmosfer emosional. Musik dan gambar bekerja cukup erat sehingga beberapa adegan terasa lebih besar dibandingkan dialog yang menyertainya.
Ini menjadi salah satu kekuatan teknis “DC”.
Matheswaran tampak lebih tertarik menggunakan bahasa visual, musik dan aksi untuk menyampaikan emosi daripada menjelaskan semuanya melalui percakapan panjang.
Tidak lepas dari kelemahan
Namun “DC” bukan film yang sempurna.
Beberapa bagian cerita terasa lebih kuat secara visual dibandingkan secara dramatis. Ritmenya juga tidak selalu konsisten. Setelah membangun konflik dengan intensitas tinggi, film sesekali kehilangan momentum ketika masuk ke bagian yang lebih banyak menjelaskan karakter dan latar belakang.
Durasi sekitar dua setengah jam juga membuat sejumlah bagian terasa bisa dipadatkan.
Kelemahan lainnya terletak pada penulisan beberapa karakter pendukung yang tidak mendapatkan ruang cukup untuk berkembang.
Namun persoalan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan kekuatan utama film.
Kesimpulan
“DC” merupakan interpretasi Arun Matheswaran terhadap kisah Devdas yang dipindahkan ke dunia kriminal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!