Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

IHSG Dibayangi Sentimen Global dan Domestik, Bakal Menguat atau Melemah? Ini Jawabannya

📅 Senin, 31 Agu 2026, 09:46 WIB | Oleh:
IHSG Dibayangi Sentimen Global dan Domestik, Bakal Menguat atau Melemah? Ini Jawabannya Doc: Antara foto
Ket. Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari layar gawai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8).

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin diperkirakan bergerak variatif dipicu oleh kombinasi sentimen dari tingkat global dan domestik.

IHSG dibuka melemah 7,01 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.511,11. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,11 poin atau 0,17 persen ke posisi 640,71.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas di area 6.357, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan menembus support 6.454, indeks bisa terkoreksi menuju 6.385-6.377 sebagai support kuatnya,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah relatif mereda, khususnya terkait kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Pelaku pasar semakin memandang situasi Iran sebagai konflik yang lebih berfokus pada tekanan ekonomi dan sanksi dibandingkan ancaman langsung terhadap pasokan fisik.

“Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global,” ujar Liza.

Sementara itu, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai inflasi belum menunjukkan perlambatan berarti, meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar bahwa proses penurunan tekanan harga masih membutuhkan waktu lebih lama.

Liza menyebut kondisi itu mendorong investor melakukan reposisi portofolio, terutama pada saham-saham berorientasi pertumbuhan yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

Adapun, fokus kebijakan moneter tetap tertuju pada sikap The Fed dalam menghadapi inflasi yang masih berada di atas target 2 persen. Kevin Warsh mengindikasikan bahwa pembuat kebijakan masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengembalikan tekanan harga menuju target bank sentral.

“Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat lebih lama apabila perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan,” ujar Liza.

Dari dalam negeri, BEI menjadwalkan uji coba perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham di pasar reguler dan pasar tunai serta klasifikasi baru auto rejection bersama Anggota Bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026, dengan target implementasi pada 7 September 2026.

Sementara itu, pemerintah memberikan relaksasi kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) bagi 64 eksportir sektor pertambangan melalui Pasal 18A PP Nomor 21 Tahun 2026 yang berlaku untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor (PPE) mulai 1 September 2026.

Eksportir yang memenuhi kriteria kini hanya diwajibkan menempatkan minimal 30 persen DHE SDA selama paling singkat tiga bulan, dibandingkan ketentuan umum yang mewajibkan penempatan 100 persen selama minimal 12 bulan. Meski demikian, seluruh atau 100 persen hasil ekspor tetap wajib direpatriasi ke Sistem Keuangan Indonesia.

CORE Indonesia memperkirakan kebijakan itu mencakup potensi DHE sekitar 30 miliar-40 miliar dolar AS per tahun, terutama dari perusahaan dalam rantai industri nikel, baja berbasis nikel, Freeport, alumina dan mineral olahan lainnya.

“Relaksasi tersebut memberikan fleksibilitas likuiditas yang lebih besar bagi eksportir, tetapi sekaligus mengurangi jumlah devisa yang wajib mengendap dalam sistem keuangan domestik dalam jangka panjang,” ujar Liza.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jjroyal-luwak
Ekonomi
Rupiah Tertekan! Senin Pagi...

Wisata kayaking di Rangko

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Wisata
Wisata kayaking di Rangko

Dibayangi Pelemahan - 31 Agustus 2026

1.5 jam yang lalu | Rizal Azhari

Ekonomi
Dibayangi Pelemahan - 31 Ag...
Megapolitan
Cuaca DKI Jakarta Diprakira...

Ini Profil Gus Kikin Ketua Umum PBNU 2026-2031

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Ini Profil Gus Kikin Ketua ...
Advertisement
Menjaga Tradisi, Menyapa Wisatawan: Pesona Ruwatan Anak Gimbal di Dieng

Menjaga Tradisi, Menyapa Wisatawan: Pesona Ruwatan Anak Gimbal di Dieng

30 Aug 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.