Jateng Ubah Arah Investasi, Padat Karya Jadi Senjata Buka Lapangan Kerja
📅 Kamis, 27 Agu 2026, 22:25 WIB | Oleh: Tim PenulisSEMARANG – Investasi padat karya menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di tengah kebutuhan penciptaan lapangan kerja.
Selain meningkatkan kapasitas produksi, investasi jenis ini dapat memperluas penyerapan tenaga kerja dan memperkuat daya beli masyarakat, sehingga manfaat pertumbuhan ekonomi lebih cepat dirasakan secara luas.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa sektor padat karya saat ini masih menjadi prioritas investasi yang terus didorong di wilayahnya.
"Prioritas Jawa Tengah adalah padat karya yang didukung oleh (keberadaan) sekolah vokasi," katanya di Jakarta, Kamis (27/8).
Saat membuka Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 bertema "Accelerating Investment Growth in Central Java Through Sustainable Development and Regional Competitiveness", Gubernur menyebutkan jumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai basis pendidikan vokasi di Jateng mencapai sekitar 1.500 sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kemudian, BLK-BLK (balai latihan kerja), termasuk politeknik, sehingga BLK dan sekolah vokasi framing untuk mendapatkan kesempatan kerja dengan seluruh potensi yang ada. Padat karya menjadi prioritas utama tetapi tidak menutupkan padat modal," katanya.
Luthfi melanjutkan prioritas investasi yang kedua adalah ekonomi terbarukan atau green economy yang terus digenjot investasinya di wilayah Jateng.
"Kemarin, telah diresmikan di Waduk Gajah Mungkur (dengan investasi) Rp1,6 triliun terkait solar panel yang 37 persen bisa meningkatkan listrik di wilayah Wonogiri," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada pula, kata dia, setidaknya 2.500 desa mandiri energi yang tersebar di Jateng, didukung dengan berbagai potensi energi terbarukan, seperti panas bumi.
"Ketiga, (usaha) mikro di wilayah kita banyak. Ini yang kita harus didukung. Tidak hanya permodalannya, tidak hanya terkait dengan permasalahannya," katanya.
Namun, kata dia, mendorong sektor mikro tersebut bisa naik kelas menjadi sektor kecil atau menengah, sehingga mereka sudah bisa mengekspor produknya.
"Perlu adanya kerja-kerja kolaboratif antara provinsi, kabupaten, kota, dan lintas kementerian, sehingga UMKM bisa berdaya saing di luar negeri maupun di negeri sendiri," katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng M Noor Nugroho menambahkan bahwa Jateng memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor investasi.
"Karena dari sisi kinerja ekonominya cukup baik, sehingga prospeknya relatif membaik, terutama di 2026-2027. Jadi, ini merupakan potensi karena kita tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!