Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

📅 Senin, 24 Agu 2026, 07:05 WIB | Oleh:

Namun, 22,93 juta manusia bukan sekadar angka statistik. Di balik angka tersebut terdapat keluarga yang setiap hari harus menghitung apakah penghasilannya cukup untuk membeli makanan. Ada orangtua yang mencemaskan biaya sekolah anaknya. Ada lansia, penyandang disabilitas, pekerja berpenghasilan rendah, serta berbagai kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan. 

Lebih jauh lagi, kemiskinan bukan semata persoalan pendapatan. Ia berkaitan dengan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan layak, sanitasi, air bersih, dan kesempatan meningkatkan kualitas hidup. Karena itu, pengentasan kemiskinan harus ditempatkan sebagai agenda besar bangsa. 

Dari Charity Menuju Pemberdayaan Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Kita mempunyai ratusan ribu masjid dan mushala, puluhan ribu pesantren, organisasi keagamaan dan sosial, lembaga zakat, lembaga filantropi, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, serta tradisi gotong royong yang telah hidup sejak lama. 

Potensi tersebut perlu dikonsolidasikan menjadi kekuatan pemberdayaan. Bayangkan apabila setiap masjid tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi sekaligus menjadi pusat kepedulian sosial. Masjid dapat membantu memetakan keluarga miskin di lingkungan sekitarnya, mencegah anak putus sekolah, membantu pengembangan usaha mikro, memberikan pelatihan keterampilan, memperkuat ketahanan keluarga, serta memberikan perhatian kepada lansia dan penyandang disabilitas.

Pesantren juga dapat semakin dikembangkan sebagai pusat pendidikan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Demikian pula zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Potensi ekonomi umat ini harus dikelola semakin profesional, transparan, dan produktif. Orientasinya jangan hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi membantu manusia keluar secara permanen dari kemiskinan. 

Dengan kata lain, kita membutuhkan transformasi dari charity menuju empowerment, dari santunan menuju pemberdayaan. Memberi makanan kepada orang yang lapar adalah kebaikan. Namun, membantu seseorang memperoleh pendidikan, keterampilan, pekerjaan, modal usaha, dan kesempatan agar tidak lagi hidup dalam kemiskinan merupakan perjuangan yang harus diperluas. 

Memajukan Kesejahteraan Umum Dalam kehidupan bernegara, cita-cita tersebut sebenarnya bertemu secara indah dengan amanat konstitusi Indonesia. Pembukaan UUD 1945 menegaskan salah satu tujuan pembentukan Pemerintah Negara Indonesia adalah “memajukan kesejahteraan umum”. Pasal 34 UUD 1945 bahkan secara khusus memberikan mandat mengenai fakir miskin dan anak terlantar, sistem jaminan sosial, pelayanan kesehatan, serta pelayanan umum yang layak. 

Dengan demikian, memperjuangkan kesejahteraan bukan hanya perintah moral dan keagamaan. Ia sekaligus merupakan amanat konstitusi. Negara tentu memegang tanggung jawab utama. Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Pemerintah pusat dan daerah, organisasi keagamaan, organisasi sosial, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga filantropi, media, serta masyarakat harus bergerak bersama.

Kita membutuhkan kolaborasi nasional untuk mempercepat pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan. Program kesejahteraan juga harus semakin berbasis data yang akurat hingga tingkat keluarga: siapa yang miskin, di mana mereka berada, mengapa mereka miskin, bantuan apa yang telah diterima, dan intervensi apa yang diperlukan.

Orientasinya tidak boleh berhenti pada berapa banyak bantuan yang dibagikan. Ukuran keberhasilannya harus berubah menjadi: berapa banyak keluarga yang benar-benar berhasil keluar dari kemiskinan dan hidup mandiri secara berkelanjutan. 

Maulid dan Kerja Peradaban 
Pada akhirnya, mencintai Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak pujian kepada beliau. Cinta harus melahirkan keteladanan. Shalawat harus berbuah akhlak. Iqra' harus melahirkan ilmu dan kemajuan. Ibadah harus menumbuhkan kepedulian dan kesejahteraan sosial.

Inilah relevansi Maulid Nabi bagi Indonesia hari ini. Kita membutuhkan manusia Indonesia yang religius sekaligus berintegritas; berakhlak sekaligus berilmu; maju secara ekonomi sekaligus memiliki solidaritas sosial; serta mampu menjalankan kekuasaan sebagai amanah dan pengabdian. 

Rasulullah SAW telah menunjukkan bahwa membangun peradaban berarti membangun manusia: memuliakan akhlaknya, mencerdaskan pikirannya, menegakkan keadilan, serta memperhatikan mereka yang lemah. Karena itu, Maulid sesungguhnya tidak selesai ketika panggung dibongkar dan gema shalawat berakhir.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Megapolitan
Mengerikan Tragedi Kebakara...

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

1.5 jam yang lalu | Opik

Rona
Tips Mengelola Bisnis Kos-K...

Kegiatan melukis caping di Kota Solo

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Kegiatan melukis caping di ...
Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.