Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

📅 Senin, 24 Agu 2026, 07:05 WIB | Oleh:

Bangsa yang besar tidak cukup hanya dibangun dengan jalan tol, gedung tinggi, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi. Ia membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas dan akhlak. 

Iqra' dan Peradaban 
Ilmu Pilar kedua adalah ilmu. Menarik bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukan perintah mendirikan negara, mengumpulkan kekayaan, ataupun membangun kekuatan militer. Perintah pertama adalah “Iqra'” — bacalah (QS Al-'Alaq [96]: 1). Pesannya sangat mendasar. Islam sejak awal meletakkan ilmu sebagai fondasi peradaban. 

Sejarah menunjukkan bagaimana semangat tersebut kemudian melahirkan tradisi keilmuan yang luar biasa. Peradaban Islam melahirkan ulama, dokter, ahli matematika, astronom, filsuf, ahli hukum, dan berbagai ilmuwan yang ikut memberikan sumbangan penting bagi perkembangan pengetahuan manusia.

Namun, umat Islam tidak boleh hanya membanggakan kejayaan masa lalu. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan kemajuan baru. Indonesia telah mengalami kemajuan pendidikan, tetapi pekerjaan besar masih terbentang. Kualitas dan akses pendidikan belum sepenuhnya merata. Kesenjangan antardaerah masih terasa. 

Kemampuan ekonomi keluarga juga masih memengaruhi kesempatan sebagian anak memperoleh pendidikan berkualitas. Padahal, pendidikan merupakan salah satu jalan paling penting untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak yang lahir dari keluarga miskin tidak boleh ditakdirkan tetap miskin hanya karena orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikan yang bermutu. 

Anak yang lahir di desa terpencil harus mempunyai kesempatan berkembang sebagaimana anak yang lahir di pusat kota. Konstitusi kita telah memberikan arah yang jelas. Salah satu tujuan berdirinya Republik Indonesia sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pasal 31 UUD 1945 juga menegaskan hak warga negara memperoleh pendidikan. 

Dengan demikian, pendidikan yang berkualitas dan dapat dijangkau seluruh rakyat bukan kemurahan hati negara. Ia merupakan amanat konstitusi. Semangat Iqra' pada abad ke-21 juga tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca teks. Kita harus mampu membaca zaman.

Generasi Indonesia harus menguasai sains, teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, kesehatan, pertanian modern, teknologi pangan, dan berbagai bidang ilmu yang akan menentukan masa depan dunia. Keimanan dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan. Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan keserakahan dan penghancuran.

Sebaliknya, akhlak tanpa penguasaan ilmu akan membuat suatu masyarakat sulit bersaing dan mudah tertinggal. Karena itu, kita membutuhkan keduanya: ilmu yang dipandu akhlak dan akhlak yang diperkuat ilmu. 

Kesejahteraan sebagai Misi Sosial 
Pilar ketiga adalah kesejahteraan umat. Aspek inilah yang terkadang kurang memperoleh perhatian dalam peringatan Maulid. Padahal, Rasulullah SAW tidak hanya membangun masyarakat yang tekun beribadah. 

Beliau membangun masyarakat yang memiliki solidaritas sosial dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Fakir miskin diperhatikan. Anak yatim dilindungi. Orang lapar harus diberi makan. Zakat diwajibkan. Infak dan sedekah dianjurkan.

Wakaf dikembangkan. Kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang-orang kaya. Al-Quran bahkan mengingatkan agar harta “jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”(QS Al-Hasyr [59]: 7). Pesannya jelas: kesalehan memiliki dimensi sosial. Tidak cukup seseorang tekun beribadah tetapi tidak peduli kepada tetangganya yang kelaparan. Tidak cukup masyarakat membangun rumah ibadah yang megah sementara di sekitarnya masih terdapat anak yang putus sekolah karena kemiskinan. 

Dalam konteks Indonesia, perjuangan tersebut masih sangat relevan. Badan Pusat Statistik mencatat persentase penduduk miskin pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta jiwa. Angka ini menurun dibandingkan periode sebelumnya dan tentu merupakan perkembangan yang patut diapresiasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Megapolitan
Mengerikan Tragedi Kebakara...

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

1.5 jam yang lalu | Opik

Rona
Tips Mengelola Bisnis Kos-K...

Kegiatan melukis caping di Kota Solo

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Kegiatan melukis caping di ...
Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.