Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

2 Senin, 24 Agu 2026, 07:05 WIB | Oleh:
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat . Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat . Doc: Koran Jakarta/M.Fachri
Ket. Dr. H. Ahmad Effendy Choirie, Ketua Umum DNIKS; Anggota DPR/MPR RI 1999–2013.

Setiap tahun umat Islam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan penuh kecintaan. Shalawat dikumandangkan, sirah Nabi dibacakan, pengajian diselenggarakan, dan keteladanan Rasulullah kembali diingat di masjid, mushala, pesantren, sekolah, perkantoran, hingga berbagai lembaga negara. 

Tradisi tersebut baik dan perlu terus dirawat. Namun, peringatan Maulid seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan ekspresi kecintaan kepada Rasulullah. Maulid harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi: sejauh mana kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa kita telah mencerminkan nilai-nilai yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan itu menjadi relevan ketika bangsa kita masih menghadapi berbagai persoalan: korupsi, ketimpangan sosial, kemiskinan, kualitas pendidikan yang belum merata, kekerasan, kerusakan lingkungan, serta kecenderungan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan amanah. 

Dalam konteks itulah Maulid Nabi menemukan makna sosial dan kebangsaannya. Peringatan kelahiran Rasulullah seharusnya menghidupkan kembali setidaknya tiga pilar penting peradaban yang diwariskan beliau: akhlak, ilmu, dan kesejahteraan umat.

Ketiganya tidak berdiri sendiri. Akhlak memberikan arah kepada ilmu. Ilmu memberikan kemampuan untuk membangun kehidupan. Sedangkan kesejahteraan merupakan salah satu buah dari kehidupan sosial yang berilmu, berkeadilan, dan berakhlak.

Revolusi Akhlak 
Nabi Muhammad SAW datang membawa perubahan besar dalam sejarah manusia. Namun, perubahan itu tidak dimulai dengan kekuasaan, kekayaan, ataupun kekuatan militer. Fondasinya adalah pembentukan manusia dan akhlaknya.

Al-Quran menegaskan: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS Al-Ahzab [33]: 21). Allah SWT juga memberikan kesaksian tentang pribadi Nabi: “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS Al-Qalam [68]: 4). Rasulullah SAW sendiri menegaskan misi kerasulannya: “Bu'itstu li utammima makarimal akhlaq” — “Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” 

Hadis ini mengandung pesan mendasar. Risalah Muhammad tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membentuk manusia yang berakhlak dalam hubungannya dengan sesama. Keimanan harus melahirkan kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, akhlak dalam Islam bukan sekadar kesantunan dalam hubungan pribadi.

Akhlak juga harus hadir dalam kehidupan sosial, ekonomi, hukum, politik, dan kekuasaan. 

Bagi pemimpin, akhlak berarti amanah dan adil. Bagi pejabat, akhlak berarti tidak menyalahgunakan kekuasaan. Bagi penegak hukum, akhlak berarti menegakkan keadilan tanpa diskriminasi. Bagi pengusaha, akhlak berarti tidak mengeksploitasi pekerja dan konsumen. Bagi orang berilmu, akhlak berarti menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan. 

Krisis paling berbahaya bagi sebuah bangsa karena itu bukan semata-mata kekurangan sumber daya alam atau modal ekonomi, melainkan krisis akhlak. 

Negeri yang kaya dapat tetap menyimpan kemiskinan apabila kekayaannya tidak dikelola secara amanah. Anggaran negara yang besar belum tentu menghasilkan kesejahteraan apabila kebijakan publik menjauh dari keadilan. Institusi yang kuat pun akan kehilangan kepercayaan apabila integritas orang-orang di dalamnya runtuh. 

Di sinilah Maulid memperoleh makna kebangsaannya. Hadis “Bu'itstu li utammima makarimal akhlaq” tidak semestinya berhenti menjadi kutipan di mimbar-mimbar Maulid. Ia harus diterjemahkan menjadi etika kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kekuasaan harus dipahami sebagai amanah, bukan kesempatan memperkaya diri dan kelompok. Jabatan merupakan sarana pengabdian, bukan tujuan. Hukum harus ditegakkan secara adil kepada siapa pun.

Bangsa yang besar tidak cukup hanya dibangun dengan jalan tol, gedung tinggi, teknologi canggih, dan pertumbuhan ekonomi. Ia membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas dan akhlak. 

Iqra' dan Peradaban 
Ilmu Pilar kedua adalah ilmu. Menarik bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukan perintah mendirikan negara, mengumpulkan kekayaan, ataupun membangun kekuatan militer. Perintah pertama adalah “Iqra'” — bacalah (QS Al-'Alaq [96]: 1). Pesannya sangat mendasar. Islam sejak awal meletakkan ilmu sebagai fondasi peradaban. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

Kimi Antonelli Ukir Sejarah! Di Usia 20 Tahun Resmi Jadi Juara Dunia Formula 1 2026

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.