Semangat Paskibraka dari China Ini Bikin HUT RI Makin Berkesan
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 07:15 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoSelain Yosep, terdapat 10 pelajar dan pekerja Indonesia yang saat ini berada di Shanghai dan bertugas sebagai Paskibra.
“Saya sudah punya pengalaman menjadi petugas upacara saat masih duduk di bangku sekolah di Papua,” ungkap Yosep.
Menurut Yosep, tantangan terbesar dalam menjalankan tugas tersebut adalah menjaga kekompakan tim yang berasal dari berbagai daerah. Namun, keberagaman itu justru menjadi kekuatan.
“Kita saling belajar. Saya belajar untuk disiplin dan, yang paling penting, menjaga sikap agar bisa menjadi contoh yang baik bagi generasi berikutnya,” tambah Yosep.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada upacara HUT RI 17 Agustus lalu, Yosep bersyukur karena seluruh rangkaian berjalan khidmat dan lancar sesuai dengan latihan. Para peserta yang merupakan WNI juga hadir dengan semangat dan tertib.
“Di tengah upacara, saya juga menyelipkan doa dalam hati untuk bangsa kita yang sedang diuji, seperti saudara-saudara kita di NTT yang terkena gempa dan bangsa kita yang sedang menghadapi konflik. Itu mengingatkan kita bahwa kemerdekaan terasa lengkap ketika tidak ada saudara yang merasa tidak aman atau tertinggal, sehingga negara kita dapat hidup damai, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” jelas Yosep.
Secara pribadi, Yosep merasa bangga dipercaya menjadi komandan upacara.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya juga lega karena saya melihat WNI dari berbagai daerah di sini bisa kompak. Kesan saya, tugas kita sekarang bukan hanya upacara, tetapi juga terus saling mendoakan, saling peduli, dan berkarya agar tidak ada lagi saudara-saudara kita yang tertinggal, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan,” tambah Yosep.
Yosep, Dito, Grace, dan George merupakan generasi penerus Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), yang sejarahnya bermula pada 1946 di Yogyakarta, saat peringatan HUT ke-1 Republik Indonesia.
Saat itu, Presiden Soekarno menugaskan Mayor (Laut) Husein Mutahar untuk memimpin upacara ketika Indonesia berada dalam kondisi darurat perang. Husein kemudian menunjuk lima pemuda-pemudi sebagai simbol persatuan.
Husein Mutahar, yang juga merupakan ajudan Presiden Soekarno sekaligus pencipta lagu “Hari Merdeka” dan “Syukur”, membentuk pasukan inti yang terdiri atas lima orang —tiga putri dan dua putra— sebagai lambang lima sila Pancasila.
Pada 1967, Presiden Soeharto meminta Husein Mutahar kembali menangani pengibaran bendera pusaka. Ia kemudian mengembangkan komposisi pasukan menjadi tiga kelompok yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia: 17 pengiring, 8 pembawa bendera, dan 45 pengawal. Untuk kelompok 8 dan 17, Husein melibatkan putra-putri daerah yang tinggal di Jakarta serta anggota Pramuka. Sementara itu, kelompok 45 direncanakan berasal dari kalangan taruna AKABRI atau pasukan khusus ABRI.
Dua tahun kemudian, pada 1969, anggota Paskibra mulai melibatkan perwakilan pelajar SLTA dari seluruh provinsi di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!