Target PLTS 100 GW Butuh Inovasi Teknologi
📅 Selasa, 18 Agu 2026, 01:20 WIB | Oleh: Tim RedaksiTransisi Energi - Pembangunan PLTS Langkah Tepat untuk Kemandirian Energi
Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena memperoleh sinar Matahari hampir sepanjang tahun.
JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem riset energi surya untuk mendukung rencana pemerintah mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan lembaganya tidak hanya mengembangkan teknologi panel surya konvensional berbasis silikon, tetapi juga mendorong inovasi baru yang dapat meningkatkan pemanfaatan energi surya.
“BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC),” kata Arif, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta.
Menurut dia, teknologi DSSC memiliki sensitivitas tinggi sehingga mampu menghasilkan listrik meskipun berada di dalam ruangan (indoor).
Teknologi tersebut dinilai berpotensi mendukung konsep bangunan hemat energi karena dapat memanfaatkan cahaya lampu maupun sinar Matahari tidak langsung dari jendela.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut, BRIN telah mengoperasikan fasilitas riset dan pengujian fotovoltaik di Serpong, Tangerang Selatan.
“Di kawasan Serpong, kami memiliki pusat rekayasa keteknikan yang secara khusus dilengkapi dengan laboratorium pengujian fotovoltaik,” ujar Arif.
Fasilitas itu digunakan untuk mengembangkan dan menguji struktur panel surya sekaligus memastikan keandalannya sebelum diterapkan pada kondisi iklim tropis Indonesia.
BRIN juga mengembangkan teknologi Virtual Power Plant (VPP) atau pembangkit listrik virtual.
Teknologi ini memungkinkan berbagai sumber energi dan pengguna listrik terhubung dalam satu sistem sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.
“Inovasi ini melahirkan model bisnis kelistrikan baru di mana pelanggan atau pengguna akhir (end-user) energi listrik tidak lagi hanya sekadar menerima pasokan dari hulu, tetapi operator akan berubah fungsi menjadi fasilitator terjadinya jual-beli listrik antarkomunitas,” kata Arif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!