Libatkan Mama-Mama Arfak, Warmare Bersiap Jadi Kampung Dodol Matoa Pertama Papua Barat
📅 Senin, 17 Agu 2026, 21:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Tim Ekspedisi Patriot Unair
MANOKWARI – Dari buah yang tumbuh di tanah Papua, muncul peluang untuk melahirkan produk lokal yang memiliki nilai jual dan identitas daerah.
Jika dikembangkan secara konsisten, dodol matoa berpotensi menjadi produk khas Warmare yang tidak hanya memperkenalkan kekayaan pangan lokal, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama puluhan mama dari Suku Arfak menyiapkan Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, sebagai Kampung Dodol Matoa pertama di Provinsi Papua Barat.
Dosen Unair Surabaya Zamal Nasution melalui keterangan resmi di Manokwari, Senin (17/8), mengatakan pelatihan serta pendampingan untuk menciptakan kreasi makanan dan minuman berbahan baku buah matoa berlangsung sejak 5-15 Agustus 2026.
“Pelatihan dan pendampingan pembuatan dodol matoa serta produk turunan lainnya dilakukan setiap sore setelah mama-mama Suku Arfak menyelesaikan kegiatan berkebun,” kata Zamal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, proses peralihan keterampilan berjalan lancar karena mama-mama Suku Arfak sebelumnya sudah menguasai teknik pembuatan papeda yang secara prinsip pengolahan memiliki tekstur kental dan kenyal serupa dengan dodol maupun selai.
Seluruh peserta berhasil menciptakan sejumlah variasi produk olahan matoa, seperti dodol bertekstur lembut, selai yang dipadukan dengan nanas, es krim, stik renyah, olahan kacang, teh herbal matoa, hingga sambal matoa bercita rasa pedas manis.
“Kemiripan proses itu mempermudah mereka mempelajari teknik pengolahan produk yang baru,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam jangka panjang, kata dia, kemampuan warga diproyeksikan menjadi cikal bakal berdirinya sentra UMKM Kampung Dodol Matoa di Warmare guna memperkuat posisi matoa sebagai komoditas olahan pangan khas Papua Barat.
Program tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan ekonomi keluarga, tetapi diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak atau alternatif pangan sehat, sekaligus mengurangi konsumsi makanan olahan pabrik (ultra-processed food).
“Kebiasaan konsumsi pangan sehat berbahan lokal diharapkan dapat menekan angka gizi buruk (stunting) dan malnutrisi di Papua Barat secara berkelanjutan,” ucapnya.
Menurut dia kolaborasi Tim Ekspedisi Patriot Unair dengan mama-mama Suku Arfak di Distrik Warmare menunjukkan bahwa pembentukan sentra ekonomi baru, pemenuhan gizi anak, dan ketahanan pangan dapat diwujudkan secara bersamaan.
“Kami berharap program ini bisa memberikan manfaat jangka panjang melalui pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dan kearifan lokal,” kata Zamal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!