Hadapi Singapura, Herdman Jangan Lagi Coba-coba
📅 Kamis, 06 Agu 2026, 07:04 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraJAKARTA - Tak ada lagi ruang untuk coba-coba. Timnas Indonesia hanya memiliki satu jalan untuk menjaga harapan di Asean Hyundai Cup (Piala AFF) 2026, yakni menaklukkan Singapura pada laga terakhir Grup A di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8). Dalam pertandingan hidup mati tersebut, pelatih John Herdman dituntut mengambil keputusan paling tepat.
Berkaca dari tiga laga sebelumnya, mengembalikan komposisi pemain yang sukses mengalahkan Kamboja menjadi pilihan paling rasional demi menghidupkan peluang Skuad Garuda ke semifinal. Situasi Indonesia kini sangat jelas. Kemenangan akan mengantarkan Skuad Garuda mengoleksi sembilan poin sekaligus memastikan tiket ke babak empat besar.
Posisi sebagai juara atau runner-up grup akan ditentukan hasil laga Vietnam kontra Kamboja yang dimainkan pada waktu bersamaan. Sebaliknya, hasil imbang apalagi kekalahan otomatis mengakhiri perjalanan Indonesia.
Jika hanya membawa pulang satu poin dari Singapura, Indonesia tidak akan mampu melewati perolehan angka tuan rumah. Bahkan jika Vietnam kalah dari Kamboja sehingga sama-sama mengumpulkan tujuh poin, Indonesia tetap tersingkir karena kalah head to head dari Vietnam. Artinya, kemenangan menjadi satu-satunya target yang harus diraih.
Misi tersebut sesungguhnya bukan hal mustahil. Indonesia pernah menunjukkan kualitas permainan terbaik saat mengalahkan Kamboja 5-1 pada laga pembuka. Ketika itu Herdman menurunkan susunan pemain yang menghadirkan keseimbangan di semua lini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nadeo Argawinata berdiri di bawah mistar gawang. Trio Shayne Pattynama, Rizky Ridho, dan Sandy Walsh tampil kokoh mengawal pertahanan. Marc Klok, Thom Haye, dan Ivar Jenner mengendalikan permainan dari lini tengah. Sedangkan Eliano Reijnders dan Dony Tri Pamungkas aktif membantu serangan dari kedua sisi lapangan. Di lini depan, Beckham Putra Nugraha menjadi tandem ideal Mitchell Baker.
Hasilnya terlihat nyata. Indonesia tampil agresif sejak menit awal, unggul 3-0 pada babak pertama, lalu menambah dua gol lagi selepas jeda untuk menutup pertandingan dengan kemenangan telak 5-1. Selain produktif, Skuad Garuda juga tampil rapi dalam bertahan dan disiplin saat melakukan transisi.
Namun, performa tersebut tidak berlanjut setelah Herdman memilih melakukan rotasi besar-besaran. Pada pertandingan kedua melawan Timor Leste, Cahya Supriadi dipercaya mengawal gawang. Sedangkan lini belakang berubah total dengan masuknya Wahyu Prasetyo, Jordi Amat, dan Brian Fatari. Tim Geypens menggantikan Dony Tri Pamungkas di sisi kiri. Rayhan Hanan mengisi lini depan bersama Mitchell Baker.
Sebaiknya Anda baca juga:
Walaupun menang 3-0, permainan Indonesia kehilangan kelancaran. Skuad Garuda kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang babak pertama dan baru mampu memastikan kemenangan setelah pergantian pemain pada babak kedua.
Eksperimen kembali dilakukan ketika menghadapi Vietnam. Nadeo kembali menjadi penjaga gawang utama. Sedangkan lini belakang diisi Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Shayne Pattynama. Ragnar Oratmangoen menggantikan Beckham Putra sebagai tandem Mitchell Baker.
Alih-alih tampil lebih baik, Indonesia justru mengalami kekalahan paling menyakitkan. Pertahanan Skuad Garuda kehilangan organisasi. Vietnam sudah unggul dua gol dalam 14 menit pertama sebelum Rafaelson melengkapi kemenangan 3-0 pada babak kedua. Kekalahan tersebut memperlihatkan masih lemahnya koordinasi antarlini, terutama saat menghadapi transisi cepat lawan.
Dari tiga pertandingan itu, satu kesimpulan menjadi sangat jelas. Formasi saat melawan Kamboja masih menjadi pakem terbaik Indonesia. Rizky Ridho tampil lebih nyaman sebagai bek tengah, Sandy Walsh memberikan ketenangan di lini belakang. Sedangkan Beckham Putra menghadirkan kreativitas dan mobilitas yang belum tergantikan.
Komposisi tersebut menghasilkan keseimbangan antara pertahanan dan serangan yang tidak muncul dalam dua laga berikutnya. Herdman juga menyadari persoalan utama tim asuhannya terletak pada organisasi permainan.
“Kami harus tetap menjaga kerapatan formasi. Baik saat menyerang atau bertahan, formasi harus tetap rapat. Kami harus mempelajari momen yang tepat agar pertahanan tetap rapat saat diserang dan transisi bertahan terorganisasi dengan baik,” ujar Herdman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!