Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Rupiah Hari Ini Melemah, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama

📅 Kamis, 30 Jul 2026, 18:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Hari Ini Melemah, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja.
Ket. Ilustrasi-Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta.

JAKARTA – Pelemahan rupiah yang dipengaruhi tingginya harga minyak mencerminkan sensitivitas nilai tukar terhadap tekanan eksternal.

Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, kenaikan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan nilai impor, memperlebar defisit transaksi berjalan, dan mendorong permintaan valuta asing.

Kondisi tersebut dapat menekan rupiah, terutama jika dibarengi penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Stabilitas nilai tukar selanjutnya akan sangat bergantung pada respons kebijakan moneter, kondisi neraca perdagangan, serta arus masuk modal asing.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (30/7), bergerak melemah 38 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.111 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.073 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi harga minyak yang masih bertahan pada level tinggi.

"Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global berupa menguatnya indeks dolar dan harga minyak yang masih bertahan pada level yang tinggi," katanya di Jakarta.

Walaupun tren harga minyak menurun, lanjut dia, tapi masih jauh di atas asumsi harga di APBN, sehingga dikhawatirkan akan berakibat pada defisit fiskal dan perdagangan.

Sentimen lainnya berasal dari hasil pertemuan (Federal Open Market Committee) yang mengarah pada sikap Federal Reserve (The Fed) yang hawkish berdampak pada kenaikan yield obligasi pemerintah, seperti tenor 10 tahun naik 0,5 basis points (bps), lalu tenor 2, 3, dan 6 tahun masing-masing naik 1,2, 1,4, dan 2,6 bps.

"Tenor 6 tahun naik paling besar, 14 bps, walaupun tidak terjadi capital outflow," ungkap dia.

Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah bergerak dalam kisaran terbatas seiring pengumuman kebijakan moneter FOMC AS.

"Sesuai ekspektasi pasar, The Fed mempertahankan Fed Funds Rate (FFR) pada kisaran 3,50-3,75 persen dalam pertemuan Juli 2026, serta kembali menegaskan komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga," ungkap dia.

Dalam konferensi pers pascapertemuan, lanjut dia, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan bank sentral AS terus mencermati tren kenaikan imbal hasil US Treasury (UST), yang mengindikasikan bahwa investor obligasi telah melakukan sebagian dari upaya pengetatan kondisi keuangan yang diharapkan oleh bank sentral.

Pernyataan tersebut menurunkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil UST pada tenor jangka panjang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Tantangan Sekolah Swasta: P...
Megapolitan
Gubernur DKI: LRT Jakarta F...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...

Pemprov NTT dan Pemerintah Pusat Matangkan Persiapan PON 2028

Pemprov NTT dan Pemerintah Pusat Matangkan Persiapan PON 2028

30 Jul 2026
Pilihan Pembaca
# 5
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
📅 Rabu, 29-Jul-2026
# 5
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
📅 Rabu, 29-Jul-2026
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.