Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perluas Akses Pasar Global, Apindo Dorong Percepatan Implementasi Berbagai Perjanjian Dagang

📅 Rabu, 29 Jul 2026, 08:08 WIB | Oleh:
Perluas Akses Pasar Global, Apindo Dorong Percepatan Implementasi Berbagai Perjanjian Dagang Doc: antara foto
Ket. Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong percepatan penyelesaian dan implementasi berbagai perjanjian dagang internasional sebagai jalan memperluas akses pasar, meningkatkan daya saing ekspor, dan memperkuat resiliensi ekonomi nasional.

Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/7), mencontohkan beberapa perjanjian dagang tersebut, antara lain Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA), Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Kanada (ICA-CEPA), serta Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia (I-EAEU FTA).

“Apindo memandang tantangan ekonomi tidak cukup dijawab dengan diagnosis. Dunia usaha membutuhkan kepastian kebijakan, penyelesaian hambatan secara end-to-end, serta kolaborasi yang berorientasi pada implementasi solusi,” ujar Shinta.

Ia menilai, penyelesaian dan implementasi perjanjian-perjanjian dagang ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi dari tekanan terhadap dunia usaha yang kini datang dari berbagai arah sekaligus.

Shinta menyebut nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dan masih bertahan lebih dari Rp18.000 pada Juli 2026. Lebih lanjut, biaya logistik nasional masih membebani 14,29 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), di atas rata-rata negara-negara lain di kawasan.

Ia mengatakan, berbagai hambatan yang dihadapi juga semakin membatasi gerak dunia usaha.

“Ketika seluruh tekanan ini datang bersamaan, perusahaan kehilangan ruang untuk menghadapi kenaikan biaya,” ujar Shinta.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) turut merosot dari 54,12 pada Januari 2026 menjadi 52,90 pada Juni 2026.

Meski masih di atas ambang ekspansi pada level 50, Shinta menilai tren penurunan ini menunjukkan optimisme pelaku industri yang kian terkikis oleh tekanan produksi dan pelemahan permintaan pasar.

Di level global, pascakonflik geopolitik di Timur Tengah, harga minyak dunia sempat melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel, setelah kembali turun ke kisaran 70-80 dolar AS, di akhir Juni, kembali ke meningkat ke 100 dolar AS.

Namun menurut Shinta, persoalan utama bagi pelaku usaha bukan semata angka harga minyak, melainkan sulitnya memproyeksikan biaya logistik, distribusi, dan produksi di tengah ketidakpastian yang berlangsung terus-menerus.

“Hampir semua negara sedang menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global, perubahan struktur industri, disrupsi teknologi, hingga restrukturisasi rantai pasok dunia. Yang membedakan setiap negara adalah seberapa cepat kebijakan mampu menjadi bantalan bagi dunia usaha agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih besar,” ujarnya pula.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.