FIFA Bidik Dana 68,5 Triliun Rupiah dari Investor, UEFA Lontarkan Kritik Pedas
📅 Rabu, 29 Jul 2026, 07:17 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang dapat diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Itu bukan sesuatu yang bisa dijual FIFA."
Pernyataan tersebut mempertegas memburuknya hubungan antara FIFA dan UEFA dalam beberapa tahun terakhir. Perselisihan kedua organisasi mencakup berbagai isu, mulai dari kalender pertandingan internasional, prosedur disiplin, penunjukan wasit, hingga penyelenggaraan kompetisi.
Ketegangan itu bahkan membuat Presiden UEFA Aleksander Čeferin memilih tidak menghadiri final Piala Dunia 2026.
FIFA mengungkapkan kelompok investor diperkirakan dipimpin Thrive Eternal, kendaraan investasi yang didirikan Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui kakaknya, Jared Kushner.
Sebaiknya Anda baca juga:
FIFA juga menggandeng JPMorgan Chase sebagai penasihat untuk mencari investor strategis. Sementara mantan CEO Liberty Media, Greg Maffei, ikut berperan sebagai penasihat komersial.
Thrive Eternal sendiri merupakan strategi investasi jangka panjang yang baru diluncurkan perusahaan modal ventura Thrive Capital. Tahun ini, perusahaan tersebut telah mengakuisisi saham minoritas klub bisbol San Francisco Giants.
FIFA menegaskan bahwa investor hanya akan memiliki kepemilikan minoritas dan tidak akan terlibat dalam operasional maupun pengambilan keputusan organisasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Investor luar hanya akan memiliki saham minoritas di FIFA Forward Enterprise dan tidak akan memainkan peran operasional apa pun. Mereka berinvestasi pada anak perusahaan FIFA, bukan pada FIFA itu sendiri. Bagi FIFA, tidak ada yang berubah," demikian pernyataan resmi organisasi tersebut.
Penolakan terhadap rencana FIFA tidak hanya datang dari UEFA. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham turut mengecam gagasan tersebut melalui media sosial X.
"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Itu adalah kompetisi olahraga terbesar di dunia dan tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Bungkus kesepakatan ini dengan cara apa pun, ketika Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah menjual habis nilai yang dimilikinya."
Kritik serupa juga disampaikan profesor keuangan olahraga dari University of Notre Dame, Richard Sheehan, yang menyebut proposal tersebut sebagai upaya mencari keuntungan oleh kepemimpinan FIFA saat ini.
Menurut Sheehan, langkah tersebut bertentangan dengan status FIFA sebagai organisasi nirlaba yang seharusnya berfokus pada pengembangan sepak bola secara global.
Di sisi lain, FIFA berargumen dana yang diperoleh dari penjualan saham FFE akan digunakan untuk membentuk program pendanaan baru bagi seluruh asosiasi anggotanya. Melalui skema tersebut, setiap federasi nasional dapat mengakses bantuan modal hingga US$20 juta atau sekitar Rp326 miliar untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan pelatih, pengembangan tim nasional, kompetisi domestik, sepak bola akar rumput, serta sepak bola putri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!