Prioritas Transfer Teknologi agar RI Tidak Hanya jadi Pemasok Bahan Baku
📅 Senin, 27 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiMenurut Esther, insentif konsumsi memang penting untuk mendorong produksi di dalam negeri. Namun, itu bukan satu-satunya faktor. Ia menyebut ada tiga hambatan utama yang membuat Indonesia belum bisa memproduksi mobil listrik murni merek nasional.
“Indonesia belum sepenuhnya memproduksi mobil listrik murni merek nasional karena keterbatasan teknologi, biaya riset yang sangat tinggi, dan rantai pasok komponen utama seperti baterai yang belum mandiri. Meski beberapa pabrikan global sudah merakitnya di dalam negeri,” jelasnya.
Esther menekankan pemerintah perlu mendorong kebijakan yang berpihak pada produksi, bukan hanya penjualan. Salah satunya dengan memastikan anggaran riset tidak dipotong.
“Oleh karena itu, perlu didorong kebijakan produksi mobil sendiri. Artinya R&D harus terus dilakukan. Jadi anggaran riset jangan dipotong,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Universsitas Diponegoro katanya sudah mampu memproduksi mobil listrik sendiri, meski saat ini masih terbatas untuk penggunaan di lingkungan kampus. “Saya yakin kampus Indonesia bisa kok. Bikin contoh di Undip aja bisa produksi mobil listrik sendiri tapi masih terbatas diproduksi dan digunakan di kampus,” katanya.
Esther pun meminta Pemerintah meningkatkan insentif untuk produksi mobil listrik dan mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung seperti SPKLU. “Tinggal insentif ke arah produksi mobil listrik ditingkatkan dan infrastruktur pendukungnya disiapkan,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!